Pembuat Heboh Pusat Panggilan AS Tak Ditahan

    Kautsar Widya Prabowo - 21 Februari 2019 22:02 WIB
    Pembuat Heboh Pusat Panggilan AS Tak Ditahan
    Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
    Jakarta: Seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta sempat membuat heboh pusat pangilan Sucide Prevention Lifeline di Amerika Serikat (AS) yang merupakan layanan untuk mencegah seorang melakukan bunuh diri. Pelajar tersebut menyampaikan bahwa dirinya akan mengakhiri hidupnya dengan cara memotong urat nadi. 

    Menindaklanjuti laporan tersebut, pusat panggilan tersebut langsung menghubungi kembali untuk memastikan keselamatannya. Serta menyarankan untuk konsultasi ke psikolog dan gurunya.

    Dalam sambungan, operator meminta alamat anak yang bersangkutan, dan langsung memberitahukan kepada atase Polri di Kedubes RI Washington DC. Kemudian diterima oleh  Kasubdit-3 Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Kurniadi yang langsung memerintahkan anak buahnya mengecek lokasi kejadian.

    Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo memaparkan kejadian ini terjadi pada Rabu, 20 Febuari 2019. Diketahui sebagai seorang pelajar SMK kelas 2 jurusan IT di Jakarta Timur, dan dalam kondisi baik-baik saja, tidak dalam keadaan depresi.

    "AAP (17 tahun) yang tengah melaksanakan tugas sekolahnya yang berjudul Pengaruh Kesehatan Mental dan Perilaku Terhadap Remaja, untuk mengetahui seberapa cepat aparat menindak lanjuti laporannya, serta untuk menguji kemampuan bahasa Inggrisnya," ujar Dedi di Jakarta, Kamis, 21 Febuari 2019.

    Lebih lanjut, Siber Polri bersama Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Timur segera menangani anak tersebut. Hal itu memastikan bahwa si anak baik-baik saja. 

    Tindakan pelajar yang sengaja menelepon layanan pencegahan bunuh diri AS itu diketahui berpura-pura bunuh diri. Polisi pun hanya memberikan pemahaman dan tak melakukan tindakan pidana.  

    Menurut Dedi, kejadian tersebut justru menunjukan sikap tanggap Korps Bayangkara kepada segenap masyarakat. Pasalnya tim yang dikerahkan langsung mengecek lokasi kejadian setelah menerima laporan dari Kedutaan Besar RI di Washington DC.

    "Kita yang terpenting adalah melakukan respon cepat terhadap setiap pengaduan dan keluhan masyarkat, apa lagi anak - anak yang memilki tingkat kewajaran tinggi," ujarnya.

    Kendati demikian, jenderal bintang satu tersebut menjelaskan bahwa kejadian ini tak akan berlanjut untuk kedua kalinya. Sistem akan mengenali panggilan darurat palsu. 

    "Kalau dua kali (telpon), tiga kali dia masuk blacklist kalau di luar negri, pengalaman saya ke Jepang dan Korea Selatan kaya gitu, di Indonesia, ya bisa juga, telpon 110 juga di-black list," pungkasnya.




    (BOW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id