comscore

Korupsi di Krakatau Steel Diselisik Lewat 4 Saksi

Siti Yona Hukmana - 13 Juni 2022 22:59 WIB
Korupsi di Krakatau Steel Diselisik Lewat 4 Saksi
Ilustrasi. Medcom.id
Jakarta: Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) terus menyelisik kasus dugaan korupsi dalam proyek pembangunan pabrik blast furnace (BFC) oleh PT Krakatau Steel pada 2011. Pendalaman dilakukan lewat pemeriksaan empat saksi.

"(Pertama) GW selaku Superindentendent Sintering PT Krakatau Steel," kata Kapuspenkum Kejagung Ketut Sumedana dalam keterangan tertulis, Senin, 13 Juni 2022.
GW diperiksa terkait jabatan terakhir pada periode 6 Desember 2021 hingga sekarang. Yakni, selaku Coke Oven Plant (COP) Manager yang bertanggung jawab atas semua aktivitas produksi di COP.

"Dari jabatan tersebut, seluruh hasil tes yang dilakukan dari mulai diterbitkannya First Blow In (FBI) sampai dengan BFC tidak beroperasi (shut down) kapasitas yang dihasilkan tidak sesuai dengan desain kapasitas sebagaimana kontrak, sehingga tidak diterbitkan Certificate of Operating Readiness (CoOR)," ujar Ketut.

Saksi kedua, KN selaku Superindentendent Coking Plant PT Krakatau Steel. KN diperiksa terkait pengoperasional BFC untuk mesin COP yang menghasilkan kokas yang digunakan dalam BFC dan COP, untuk mengetahui apakah sudah diuji fungsi dan sudah dapat beroperasi sesuai spesifikasi dalam kontrak.

Ketiga, RSH selaku Superindentendent Chemical Recovery Plant PT Krakatau Steel. RSH diperiksa terkait jabatan selaku Staf Project BF setingkat Supervisor Sr. Shift Koord Coke Oven Plant 2013-2019.

Baca: Pihak Bank Syariah Indonesia Diperiksa Terkait Korupsi Ekspor CPO

Ketut mengatakan ada lima tugas dan tanggung jawab RSH dari jabatan yang diembannya. Yakni, menjadi peserta training dan mendampingi konsultan dalam pengoperasian chemical recovery plant yang dilakukan oleh SEDIN dan SHANXI COKING. Lalu, mendokumentasikan hasil desain drawing dari Konsorsium MCC CERI (perusahaan asal Tiongkok), melaporkan hasil review desain ke Manager BFP yang pada saat itu dijabat oleh Haryanta

Kemudian, melakukan pendampingan pengecekan hasil desain di lapangan. Terakhir, meminta penjelasan proses operasi dan peralatan ke pihak SEDIN.

Saksi keempat, HA selaku Superintendent Melting Slab Steel Plant (SSP) PT Krakatau Steel tahun 2018-2020. HA diperiksa terkait tugas mengorganisasikan dan mengawasi operasi peleburan di Slab Steel Plant untuk menghasilkan baja cair sesuai dengan target program produksi harian dengan kualitas yang ditargetkan

"Yang bersangkutan menerangkan SSP pernah menggunakan hot metal sebagai campuran dari sponge iron dan scrap untuk diproses menjadi slab dari blast furnace sejak 29 Agustus 2019 sampai 11 Desember 2019 dengan total serapan sebanyak 38.292 ton. Sejak shut down pada Desember 2019 sampai dengan sekarang SSP tidak beroperasi," ungkap Ketut.

Dugaan rasuah di Krakatau Steel terendus setelah ditemukan adanya biaya operasi produksi yang lebih tinggi dari harga baja di pasaran saat uji coba. Sampai Desember 2019, pabrik bernilai kontrak Rp6,921 itu belum 100 persen dibangun.

Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung belum menetapkan tersangka dalam perkara korupsi pembangunan pabrik blast furnace oleh Krakatau Steel. Penyidik akan melakukan gelar perkara dengan ahli sebelum penetapan tersangka.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id