Dalang Kasus Novel Bisa Dihukum 7 Tahun Penjara

    Candra Yuri Nuralam - 17 Juli 2019 06:56 WIB
    Dalang Kasus Novel Bisa Dihukum 7 Tahun Penjara
    Penyidik senior KPK Novel Baswedan. Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Pakar Hukum Pidana Universitas Trisaksi, Abdul Fickar Hadjar menilai dalang penyiraman air keras kepada Penyidik senior Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Novel Baswedan pantas dihukum tujuh tahun penjara. Hal serupa berlaku untuk eksekutor dalam yang menyerang Novel.

    "Pelaku kasus Novel menurut saya cocok dengan kasus penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dan dikenai Pasal 353 ayat 2 KUHP dengan ancaman hukumannya tujuh tahun penjara," kata Fickar kepada Medcom.id, di Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019.

    Dalam KUHP, Pasal 353 mengatur tentang peritaku penganiayaan yang sudah direncanakan. Sedangkan, ayat 2 dalam Pasal 353 menyebutkan jika penganiayaan itu mengakibatkan luka berat, maka yang bersalah akan diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

    Fickar menilai kasus yang menimpa Novel itu cukup untuk disebut terencana dalam hukum. Penyiraman air keras terhadap penegak hukum komisi antirasuah itu tidak mungkin dilakukan sendirian.

    Eksekutor yang menyiramkan air keras kepada Novel pun bisa dikenai pasal yang sama. Fickar menyebut Pasal 353 ayat 2 mengikat dalang maupun eksekutor.

    "Ya itu masuk dalam penganiayaan berencana," ujar Fickar.

    Di sisi lain, Fickar mengatakan polisi masih mempunyai waktu yang banyak untuk mengungkap dalang dari kasus Novel. Berdasarkan undang-undang, kedaluwarsa kasus Novel masih sangat lama.

    "Kedaluwarsa suatu kasus jika melihat Pasal 353 KUHP karena ancaman hukumannya lebih dari tiga tahun, maka kedaluwarsanya setelah 12 tahun tidak kunjung tuntas," tutur Fickar.

    Berdasarkan pasal 78 kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) ayat 1 mengatakan bahwa kadaluarsa menggugurkan wewenang untuk memproses hukum terhadap pelaku. Tenggang waktu itu berlaku sebelum perkara dimulai ataupun selama berlangsungnya tenggang waktu kedaluwarsa berada dalam stadium penegak hukum tidak dapat lagi melakukan proses hukum.

    Namun, setiap kasus berbeda masa kedaluwarsanya. Kasus yang mempunyai hukuman minimal diatas tiga tahun kadaluarsa kasusnya setelah 12 tahun terlupakan.

    Sebelumnya, kepolisian berjanji menuntaskan kasus penyiraman air keras yang menimpa Penyidik Senior Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Korps Bhayangkara akan berusaha sebelum masa kasus kedaluwarsa.

    "Sebelum kasus itu kedaluwarsa polri berkewajiban dan berkomitmen untuk secepatnya menyelesaikan kasus itu. Ini komitmen kami," kata Dedi.

    Hari ini, 17 Juli 2019, tim gabungan pencari fakta (TGPF) berjanji akan membeberkan hasil temuannya kepada publik. Tim akan didampingi dengan divisi humas mabes polri saat melakukan pemaparan.

    Baca: Temuan Kasus Novel Diungkap Besok

    Hasil temuan besar yang digarap selama enam bulan itu juga hanya akan menjadi rekomendasi kepolisian untuk melakukan penyelidikan. Belum ada nama yang menjurus menjadi tersangka.

    Hingga saat ini polisi belum juga mengungkap pelaku atau otak intelektual dari teror keji terhadap Novel. Tim gabungan khusus dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian melalui surat tugas Kapolri bernomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 yang dikeluarkan pada 8 Januari 2019.

    Tim ini bertugas menyelidik dan menyidik kekerasan terhadap Novel selama enam bulan, terhitung sejak 8 Januari 2019 sampai dengan 7 Juli 2019. Tim baru memberikan hasil kerjanya hari Selasa, 9 Juli 2019 kepada mabes polri.



    (DMR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id