Sidang Kasus ASABRI Didorong Digelar Terpisah

    Media Indonesia.com - 16 September 2021 23:49 WIB
    Sidang Kasus ASABRI Didorong Digelar Terpisah
    Ilustrasi/Medcom.id



    Jakarta: Proses sidang kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) diusulkan digelar terpisah. Hal tersebut diutarakan pakar kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, merespons kemarahan majelis hakim karena para terdakwa menolak disidang bersamaan.

    "Ini lebih baik dipisahkan sesuai dengan porsi, karena kasusnya kan beda-beda tidak bisa dijadikan satu. Terlebih ini kasus berat, kasus korupsi triliunan rupiah. Berkaca dari kasus 13 MI (manajer investasi) di Jiwasraya memang harus dipisahkan. Tidak bisa dengan cara disatukan seperti itu, nanti hakimnya tidak fokus, jadi putusannya kurang akurat," kata Trubus seperti dikutip dari Media Indonesia, Kamis, 16 September 2021.

     



    Baca: Kejagung Diyakini Bakal Jerat Aktor Intelektual Kasus ASABRI

    Menurut dia, dengan pemisahan sidang maka proses pembuktian bakal lebih terarah dan adil. Jaksa harus menunjukkan bukti yang valid dan akurat untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Sehingga, majelis hakim bisa memutus sesuai bukti yang ditunjukkan. 

    Kuasa hukum Benny Tjokrosaputro, Fajar Gora, menglarifikasi soal kericuhan dalam sidang. Menurut dia, wajar sidang tak berjalan tertib, sebab terdakwa ingin disidang secara terpisah.

    Menurut dia, hal tersebut merupakan hak terdakwa. "Nomor perkara dari 8 terdakwa tersebut kan berbeda. Artinya perbuatan yang didakwakan kepada masing-masing terdakwa juga berbeda," kata Fajar.

    Selain itu, jika perkara tersebut digabungkan, maka akan memakan waktu sangat lama dan bisa berpengaruh terhadap putusan hakim. Kuasa hukum Heru Hidayat, Kresna Hutauruk, sepakat dengan pernyataan Fajar soal nomor perkara. 

    Menurut dia, perbedaan nomor perkara seharusnya membedakan sidang sebagaimana nomor perkara masing-masing terdakwa. "Kalau dari materi, tentunya jelas bahwa uraian kepada setiap terdakwa baik tempus ataupun perbuatannya berbeda-beda dan tidak saling berkaitan dan tidak mungkin disidangkan bersamaan," kata dia. 

    Di sisi lain, Kresna mengusulkan majelis hakim ditambah sehingga memudahkan persidangan. Penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan tiga tersangka baru kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT ASABRI periode 2012-2019. Ketiganya berinisial ESS alias THS, B, dan RARL.
     
    "EES merujuk pada nama Edward Seky Soerjadjaya, mantan Direktur Ortos Holding Ltd. Inisial B merujuk pada nama Bety selaku mantan Komisaris Utama PT Sinergi Millenium Sekuritas. Sedangkan RARL adalah inisial Rennier Abdul Rachman Latief selaku Komisaris PT Sekawan Intipratama," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak seperti dikutip dari Media Indonesia, Rabu, 15 September 2021.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id