Presiden Direktur ISS Indonesia Mangkir Pemeriksaan KPK

    Juven Martua Sitompul - 12 Desember 2019 23:00 WIB
    Presiden Direktur ISS Indonesia Mangkir Pemeriksaan KPK
    Juru bicara KPK Febri Diansyah. MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Presiden Direktur PT ISS Indonesia, Elisa Lumbantoruan mangkir dalam pemeriksaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Elisa sedianya diperiksa sebagai saksi terkait dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero).

    “Yang bersangkutan (Elisa Lumbantoruan) tidak hadir,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 12 Desember 2019.

    Belum diketahui alasan mantan Direktur Layanan Strategi dan Teknologi Informasi PT Garuda Indonesia itu tidak memenuhi panggilan penyidik. Febri menyebut penyidik akan menjadwalkan ulang pemeriksaan Elisa.

    “Pemeriksaan akan dijadwalkan ulang minggu depan,” kata dia.

    Satu saksi lainnya, seorang ibu rumah tangga bernama Dessy Fadjriaty juga tidak memenuhi panggilan penyidik. Tak ada keterangan apapun yang disampaikan Dessy atas ketidakhadirannya dalam pemeriksaan hari ini.

    “Belum diperoleh konfirmasi terkait ketidakhadirannya,” kata Febri.

    Dari tujuh saksi yang dipanggil untuk tersangka Direktur Teknik dan Pengelola Armada PT Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno, hanya lima orang yang memenuhi panggilan. Mereka yakni Konsultan Aviasi Mandiri yang juga mantan VP Aircraft Maintenance Management PT Garuda Indonesia, Batara Silaban; Senior Manager Engine Management PT Garuda Indonesia, Azwar Anas; dan VP Enterprise Risk Management and Subsidiaries PT Garuda Indonesia, Enny Kristiani.

    Kemudian, Direktur Keuangan PT Delta Dunia Makmur yang juga mantan Komisaris PT Garuda Indonesia, Eddy Porwanto Poo, dan mantan VP Aircraft Maintenance PT Garuda Indonesia, Dodi Yasendri. Tim penyidik mencecar para saksi terkait proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat di perusahaan maskapai milik Negara tersebut.

    “Penyidik masih mendalami keterangan para saksi terkait proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat serta perawatan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia,” kata Febri.

    Hadinoto bersama mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi, Soetikno Soedardjo ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero). Ketiganya diduga menerima sejumlah uang dari perusahaan Rolls-Royce atas pengadaan pesawat tahun anggaran 2008-2013.

    Emirsyah dan Soetikno menerima suap dalam bentuk uang transfer dan aset yang nilainya mencapai lebih dari USD4 juta atau setara dengan Rp52 miliar dari perusahaan asal Inggris yakni Rolls-Royce. Pemberian suap melalui Soetikno dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd.

    Suap terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014. Emirsyah juga disinyalir menerima suap terkait pembelian pesawat dari Airbus.

    Dari hasil pengembangan, Emirsyah dan Soetikno kembali ditetapkan sebagai tersangka kasus TPPU. Emirsyah diduga membeli rumah yang beralamat di Pondok Indah senilai Rp5,79 miliar.

    Emirsyah juga diduga mengirimkan uang ke rekening perusahaannya di Singapura sebanyak USD680 ribu dan EUR1,02 juta. Termasuk, melunasi apartemennya di Singapura seharga SGD1,2 juta. Uang itu diduga dari hasil suap pengadaan pesawat di perusahaan plat merah tersebut.




    (NUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id