Pemerintah Didesak Antisipasi Kebangkitan Sel Tidur Terorisme

    Theofilus Ifan Sucipto - 29 November 2020 08:14 WIB
    Pemerintah Didesak Antisipasi Kebangkitan Sel Tidur Terorisme
    Polisi dan warga berada di lokasi aksi terorisme di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, Sulteng. (AFP/Kepolisian Sulteng)
    Jakarta: Setara Institute meminta pemerintah mengantisipasi bangkitnya sel tidur terorisme di Indonesia. Antisipasi dinilai mendesak usai peristiwa pembunuhan satu keluarga di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).

    “Pemerintah, khususnya aparat keamanan, untuk tidak lengah dalam mengantisipasi konsolidasi dan bangkitnya sel-sel tidur terorisme dan ekstremisme-kekerasan,” kata Direktur Riset Setara Institute, Halili Hasan, dalam keterangan tertulis Minggu, 29 November 2020. 

    Halili mengatakan kekecewaan publik atas kinerja pemerintah belakangan ini bisa menjadi celah terorisme melakukan aksinya. Pembunuhan di Sulteng juga menjadi bahan untuk menakut-nakuti orang yang dianggap musuh oleh terorisme.

    Fenomena tersebut, kata Halili, harus ditanggapi serius oleh Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala yang ditugaskan di Sulteng. Apalagi, masa kerja mereka telah diperpanjang hingga 31 Desember 2020.

    Baca: Pemerintah Diminta Buat Tim Investigasi Terkait Terorisme di Sigi

    “Mendesak satgas untuk memburu belasan anggota MIT (Mujahidin Indonesia Timur) Poso yang masih berkeliaran di hutan dan pegunungan sekitar Poso,” tegas dia.

    Halili mengatakan Satgas Operasi Tinombala dan aparat keamanan harus menjamin keselamatan dan keamanan warga negara. Termasuk serangan dari kelompok manapun yang mengancam keutuhan bangsa.

    Aksi terorisme dan ekstremisme, lanjut Halili, tidak mengenal agama. Sehingga tokoh lintas agama harus membangun kehidupan keagamaan yang teduh. 

    “Kami mendorong tokoh agama mengaktualisasikan spirit bahwa diskriminasi, permusuhan, dan kekerasan, adalah musuh bersama lintas agama,” ujar dia.

    Halili juga meminta kasus terorisme dan ekstremisme di Sulteng tidak ditunggangi sebagai isu sosial-politik. Apalagi memantik segregasi sosial-politik dan agama di tengah masyarakat agar tidak memperkeruh suasana.

    Sebelumnya, satu keluarga di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah, dibunuh pada Jumat, 27 November 2020. Pelaku diduga kelompok teroris.
     
    Pada peristiwa itu, satu rumah pelayanan atau rumah yang dijadikan sebagai tempat ibadah oleh warga turut dibakar. Perkampungan dihuni sekitar 40 kepala keluarga (KK).

    Satuan Tugas (Satgas) Tinombala bakal memburu pelaku penyerangan dan pembunuhan tersebut. Pelaku diduga kelompok teroris.
     
    "Pelaku berdasarkan keterangan saksi adalah anggota MIT (Mujahidin Indonesia Timur). Dugaan ini kami dapati setelah mencocokan dengan gambar DPO (daftar pencarian orang)," ujar Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Didik Supranoto, ketika dihubungi, Sabtu, 28 November 2020.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id