Kejagung Siap Bantu Buru Buron Mafia Tanah Benny Simon

    Siti Yona Hukmana - 05 Desember 2020 03:41 WIB
    Kejagung Siap Bantu Buru Buron Mafia Tanah Benny Simon
    Ilustrasi pengumpulan bukti. Medcom.id/M Rizal
    Jakarta: Kejaksaan Agung (Kejagung) siap membantu kepolisian mengejar buron Benny Simon Tabalujan. Dia merupakan tersangka kasus sengketa tanah seluas 7,7 hektare di Cakung Barat, Jakarta Timur.

    "Apalagi bidang Intelijen Kejaksaan sedang gencar-gencarnya menjalankan program Tangkap Buronan (Tabur)," kata Kejagung Siap Bantu Buru Buron Mafia Tanah Benny Simon dalam keterangan tertulis, Jumat, 4 Desember 2020.

    Program Tabur memburu buronan pelaku kejahatan, baik yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Kejaksaan maupun instansi penegak hukum lain. Namun, kata Sunarta, ada tahapan yang harus dilalui agar Intelijen Kejagung bisa terlibat.

    "Akan kami tanggapi langsung. Kan prosesnya begitu, kita tidak tahu itu buron kalau belum ada permintaan, setidaknya informasi," jelas Sunarta.

    Baca: Terdakwa Sengketa Tanah Cakung Mengaku Diintervensi

    Ketua Komisi Kejaksaan (Komjak) Barita Simanjuntak mendukung langkah Kejagung membantu pengejaran buron pemalsuan dokumen pertanahan tersebut. Menurut Barita hal itu sejalan sengan program tangkap buron jaksa bidang Intelijen.

    "Tugas intelijen itu melacak keberadaan orang yang masuk DPO, dengan sarana teknologi informasi yang dimiliki Kejaksaan, itu bisa cepat mengetahui di mana dan bagaimana pola komunikasinya. Jadi memang harus dilakukan," kata Barita.

    Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat mengatakan kepolisian belum berhasil mengendus jejak Benny Simon. Penyidik juga masih fokus mengamankan isu yang tengah memanas.

    Baca: Aparat Diminta Ungkap Dalang di Sengketa Tanah Cakung

    Sementara itu, pengacara Benny Simon, Haris Azhar, membantah tudingan kliennya tak mau hadir di persidangan. Haris mengatakan Benny tak bisa pulang ke Indonesia karena Australia tidak mengizinkan orang keluar masuk selama pandemi covid-19.

    "Enggak bisa (keluar). Australia tidak izinkan orang masuk dan keluar. Bukan tidak mau," ujar Haris.

    Kasus ini bermula dari persoalan sengketa tanah seluas 52.649 meter persegi di Kampung Baru RT09/08, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung Kota, Jakarta Timur. Konflik tanah ini terjadi antara pelapor Abdul Halim dan Benny Simon Tabalajun. Laporan Abdul terdaftar dengan nomor LP/5471/X/20/PMJ Ditreskrimum, tanggal 10 Oktober 2018.

    Polda Metro Jaya sudah menetapkan Benny, mantan juru ukur Badan Pertanahan Nasional (BPN) Paryoto, dan kolega Benny, Achmad Djufri, sebagai tersangka dalam kasus ini. Paryoto dan Djufri masih menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id