Kronologi Impor Limbah Ilegal Warga Singapura

    M Sholahadhin Azhar - 03 Oktober 2019 13:50 WIB
    Kronologi Impor Limbah Ilegal Warga Singapura
    Tersangka impor limbah ilegal (kanan). Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar
    Jakarta: Direktorat Penegakan (Gakkum) Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan dua tersangka warga negara asing (WNA) dalam kasus impor limbah ilegal. Kasus ini diawali permohonan perizinan dari para tersangka, elite perusahaan PT Advance Recycle Technology (ART).

    "Mereka memohonkan izin ke kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean A Tangerang kepada Direktorat Verifikasi," kata Direktur Penegakan Hukum Pidana Yazid Nurhuda di KLHK, Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019.

    Permohonan izin dilayangkan medio Agustus 2019. PT ART memang harus memohon izin mengimpor limbah. Hal ini sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Nonbahan Berbahaya dan Beracun (B3).

    Seharusnya, PT ART terlebih dulu meminta izin pada KLHK dan Kementerian Perindustrian sesuai aturan. Namun, ketentuan ini tak dijalankan sehingga Bea Cukai Tangerang tak kunjung memberi izin. 

    "Sampai 22 Agustus 2019, KLHK belum pernah menerima pengajuan rekomendasi impor limbah non-B3 dari PT ART," kata Yazid.

    Direktorat Gakkum KLHK menginvestigasi dan menemukan impor limbah PT ART mengandung B3. KLHK langsung menangkap dua tersangka, yakni Komisaris dan Direktur PT ART, LSW dan KWL.

    "Kedua WNA Singapura ini akan dikenakan Pasal 105 dan/atau Pasal 106 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup," kata dia.

    Aturan itu mengganjar mereka yang memasukkan limbah ilegal ke Indonesia. Ancaman hukuman paling lama 12 tahun dan denda paling banyak Rp12 miliar menghantui keduanya. 

    Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 itu juga mengganjar pihak yang memasukkan limbah berkategori B3. "Ancamannya dipidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 15 miliar," kata Yazid.

    Pihaknya tengah mendalami dugaan pidana lain yang diduga dilakukan LSW selaku Direktur PT ART. Hal ini terkait pengelolaan limbah B3 tanpa izin di Kawasan Berikat Cikupa, Tangerang, Banten.

    Gakkum KLHK menemukan 580 ton limbah B3 yang dikemas dalam tas besar. Isi tas itu diduga berupa bahan berbahaya seperti zinc oxide, slag Sn, zinc catalyst, zinc nickel compound dan batu CU.

    "Apabila terbukti maka pelaku akan dikenakan ancaman pidana lainnya yaitu setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin dipidana penjara paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp3 miliar," kata Yazid.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id