Nurhadi dan Menantu Didakwa Menerima Gratifikasi Rp37,2 Miliar

    Fachri Audhia Hafiez - 22 Oktober 2020 12:57 WIB
    Nurhadi dan Menantu Didakwa Menerima Gratifikasi Rp37,2 Miliar
    Eks Sekretaris MA Nurhadi dibawa ke Rutan KPK, Selasa, 2 Juni 2020. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
    Jakarta: Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono, tak hanya didakwa menerima suap. Jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa keduanya menerima gratifikasi senilai Rp37,2 miliar.

    "Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri. Sehingga merupakan beberapa kejahatan menerima gratifikasi, yaitu uang berjumpa Rp37.287.000.000," kata jaksa penuntut umum (JPU) KPK Wawan Yunarwanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 22 Oktober 2020.

    Gratifikasi itu terkait penanganan perkara di MA. Uang haram bersumber dari pihak yang berperan di lingkungan pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, hingga peninjauan kembali (PK).

    Perbuatan itu dilakukan secara bertahap pada 2014-2017. Ada lima sumber penerimaan gratifikasi dari pihak yang beperkara.

    Pertama, penerimaan dari Direktur Utama PO Jaya Utama Handoko Sutjitro senilai Rp2,4 miliar pada 2014. Fulus tersebut diberikan kepada Nurhadi dalam rangka pemenangan Handoko di perkara nomor 264/Pdt.P/2015/PN.SBY.

    Kedua, penerimaan dari Direktur PT Dian Fortuna Erisindo Renny Susetyo Wardhani senilai Rp2,7 miliar pada 2015. Renny menyerahkan uang tersebut kepada Nurhadi dalam rangka pengurusan perkara PK nomor 368PK/Pdt/2015.

    Ketiga, pemberian dari Direktur Utama PT Multi Bangun Sarana Donny Gunawan untuk pengurusan perkara di Pengadilan Negeri Surabaya nomor 100/Pdt.G/2014/PN.SBY, Pengadilan Tinggi Surabaya nomor 723/Pdt./2014/PT.Sby, dan MA nomor 3320K/PDT/2015. Nurhadi menerima Rp7 miliar dalam menangani perkara tersebut.

    Baca: Nurhadi Didakwa Menerima Suap Rp45,7 Miliar

    Keempat, penerimaan dari Direktur PT Benang Warna Indonusa Freddy Setiawan sebesar Rp23,5 miliar pada 2015 hingga 2017. Uang itu diberikan untuk penanganan perkara PK nomor 23PK/Pdt/2016.

    Kelima, penerimaan dari pihak swasta Riadi Waluyo sebesar Rp1,687 miliar pada 20 April 2016. Riadi menyerahkan uang tersebut untuk pengurusan perkara di Pengadilan Negeri Denpasar Nomor 710/Pdt.G/2015/PN.Dps.

    Nurhadi tidak melaporkan penerimaan gratifikasi ke KPK dalam rantang waktu 30 hari. Seluruh uang tersebut juga ditampung melalui sejumlah rekening atas nama berbeda, yakni Rezky Herbiyono, Calvin Pratama, Soepriyo Waskito Adi, Yoga Dwi Hartiar, dan H Rahmat Santoso.

    "Padahal penerimaan itu tanpa alasan hak yang sah menurut hukum," ujar jaksa.

    Nurhadi dan Rezky didakwa melanggar Pasal 12B Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id