Rekening Penampung Uang Korupsi Ekspor Benur Ditelusuri

    Fachri Audhia Hafiez - 06 Januari 2021 11:36 WIB
    Rekening Penampung Uang Korupsi Ekspor Benur Ditelusuri
    Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). MI
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa staf istri mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Ainul Faqih. Dia diminta menjelaskan rekening penampungan uang korupsi benih lobster (benur).

    "Dikonfirmasi tentang pengetahuannya mengenai adanya rekening bank dan kartu ATM yang diduga sebagai penampungan uang yang diduga berasal dari pihak eksportir benur," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara bidang penindakan KPK, Ali Fikri, saat dikonfirmasi, Rabu, 6 Januari 2021.

    Faqih yang juga berstatus tersangka diperiksa pada Selasa, 5 Januari 2021. KPK menduga uang haram dalam rekening tersebut digunakan untuk kepentingan Edhy Prabowo.

    Penyidik juga memeriksa seorang saksi dari PT Sentosa Bahari Sukses, Johan. Dia dikonfirmasi terkait perizinan dan pengiriman benur di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

    "Juga digali lebih lanjut soal dugaan adanya setoran uang kepada PT Aero Citra Kargo (ACK)," ucap Ali.

    Baca: KPK Perdalam Kasus Korupsi Ekspor Benih Lobster Melalui 2 Saksi

    Sementara itu, Direktur PT Grahafoods Indo Pasifik, Chandra Astan, yang dipanggil penyidik di hari yang sama tak datang ke KPK. Salah satu elite perusahaan eksportir benur itu mengaku sakit.

    "Pemeriksaan (Chandra) dijadwalkan ulang namun belum ditentukan waktunya," ujar Ali.

    Kasus korupsi yang terungkap di November 2020 ini menjerat Edhy Prabowo. Dia ditetapkan sebagai tersangka bersama enam orang lainnya.

    Sebanyak enam tersangka diduga menerima suap. Mereka ialah Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Safri dan Andreau Pribadi Misanta, pengurus PT ACK Siswadi, pihak swasta Amiril Mukminin, serta Ainul Faqih dan Edhy Prabowo.

    Seorang tersangka diduga sebagai pemberi, yakni Direktur PT DPP Suharjito. Edhy diduga menerima Rp3,4 miliar dan US$100ribu dalam korupsi tersebut. Sebagian uang digunakan Edhy Prabowo untuk berbelanja bersama istri, Andreau, dan Safri ke Honolulu, Hawaii.

    Baca: Pertemuan Eksportir Bahas Fee untuk Edhy Prabowo di Kantor KKP Didalami

    KKP diduga memonopoli ekspor benih lobster. Sebab, ekspor benih lobster hanya bisa dilakukan melalui PT ACK dengan biaya angkut Rp1.800 per ekor.

    Penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    Sedangkan, pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id