Aa Umbara dan Anak Batal Ditahan KPK karena Sakit

    Candra Yuri Nuralam - 01 April 2021 18:24 WIB
    Aa Umbara dan Anak Batal Ditahan KPK karena Sakit
    Wakil Ketua KPK Alexander Marwata (tengah) mengumumkan penetapan tersangka terhadap Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna di Jakarta, Kamis, 1 April 2021. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam



    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan rasuah pengadaan barang tanggap darurat pandemi covid-19 di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada 2020. Namun, dari tiga tersangka, hanya satu yang ditahan, yakni M Totoh Gunawan. 

    Tersangka Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna dan anaknya, Andri Wibawa, batal ditahan. Keduanya mengaku sakit.






    "Tim penyidik akan melakukan penjadwalan dan pemanggilan ulang yang akan kami informasikan lebih lanjut," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 1 April 2021.

    Totoh ditahan selama 20 hari pertama terhitung dari 1 April 2021 sampai 20 April 2021. Pemilik PT Jagat Dirgantara itu dikurung di Rumah Tahanan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur.

    Baca: Bupati Bandung Barat Aa Umbara Tersangka Korupsi Penanganan Covid-19

    Sebelum ditahan, Totoh menjalani isolasi mandiri selama 14 hari di Rumah Tahanan KPK cabang Kavling C1. Lembaga Antikorupsi memastikan Aa Umbara dan Andri akan ditahan. Keduanya diminta tidak melarikan diri.

    "Kami mengingat agar para tersangka kooperatif hadir memenuhi panggilan," tegas Alex.

    Kasus korupsi ini terjadi saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat mengeluarkan anggaran penanggulangan covid-19. Dana itu didapat dari refocusing APBD 2020 pada belanja tidak terduga.

    Aa Umbara bertemu Totoh pada April 2020. Keduanya membahas proyek pengadaan sembako untuk bantuan sosial (bansos) pada Dinsos Bandung Barat dengan kesepakatan comitment fee enam persen.

    Aa Umbara memerintahkan kepala Dinsos dan kepala Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) Bandung Barat menunjuk langsung perusahaan Totoh sebagai penyedia sembako. Setelah perusahaan Totoh terpilih, Aa Umbara ingin anaknya menjadi penyuplai sembako.

    Permintaan itu disampaikan Aa Umbara pada Mei 2020. Untuk memenangkan Andri, Aa Umbara meminta bantuan kepala Dinsos Bandung Barat dan pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Dinsos.

    Kerja sama Dinsos Bandung Barat dan perusahaan Andri serta Totoh berlangsung sejak April sampai Agustus 2020. Proyek itu sudah memakan anggaran Rp52,1 miliar.

    Dalam pengadaan sembako bansos itu, Andri dibayar Rp36 miliar dan menerima keuntungan Rp2,7 miliar. Sementara itu, Totoh dibayar Rp15,8 miliar dengan keuntungan Rp2 miliar. Aa Umbara diduga menerima Rp1 miliar dari penanganan sembako itu.

    Aa Umbara dikenakan Pasal 12 huruf i dan/atau Pasal 15 dan Pasal 12B Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tikpikor) sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 56 KUHP. 

    Andri dan Totoh disangkakan melanggar Pasal 12 huruf i dan/atau Pasal 15 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 56 KUHP.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id