• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 17 OKT 2018 - RP 41.348.051.099

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

 satelit  

Indonesia akan Patuhi Putusan Sidang Arbitrase Internasional

Dheri Agriesta - 13 Juni 2018 18:47 wib
Brigjen Totok Sugiharto (kanan) saat sertijab menjadi Kapuskom
Brigjen Totok Sugiharto (kanan) saat sertijab menjadi Kapuskom Kemenham. Foto: Dok. Kementerian Pertahanan

Jakarta: Kementerian Pertahanan mengikuti proses Sidang Arbitrase Internasional di London terkait gugatan operator satelit Avanti Communication atas penunggakan biaya peminjaman satelit Artemis. Kapuskom Kemenham Brigjen Totok Sugiharto menegaskan, pemerintah akan mematuhi putusan yang dikeluarkan.

"Pemerintah RI akan berusaha melaksanakan keputusan yang akan dikeluarkan Sidang Arbitrase Internasional di London dalam waktu dekat ini," kata Totok melalui pesan singkat yang diterima Medcom.id, Rabu, 13 Juni 2018.

Kemenhan berharap penyelesaian masalah ini berjalan dengan baik dan cepat. Kemenhan telah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menyelesaikan masalah ini sesuai prosedur yang berlaku.

Baca: Digugat Operator Satelit, Indonesia Terancam Rugi Ratusan Miliar

Totok menegaskann, Sidang Arbitrase Internasional di London belum mengeluarkan putusan terkait masalah ini. Kementerian Pertahanan baru menghadiri sidang pertama di London.

"Kemungkinan keputusan tersebut akan dikeluarkan dalam dua minggu ini," kata Totok.

Totok memastikan Kementerian Pertahanan berhasil mempertahankan slot orbit 123BT buat Indonesia. "Hingga tahun 2020," pungkas Totok.

Pada 9 Agustus 2017, Avanti Communications Limited mengajukan gugatan arbitrase melawan Kementerian Pertahanan Indonesia. Gugatan itu dilayangkan karena Pemerintah Indonesia tak mampu membayar sisa biaya penyewaan satelit Artemis.

Pada 6 Juni 2018, Avanti mengeluarkan rilis yang menyebut Sidang Arbitrase Internasional London telah mengeluarkan putusan terkait kasus ini. Berdasarkan info yang mereka dapat dari internal lembaga arbitrase itu, Indonesia diminta membayar denda sebesar USD20.075 juta. Indonesia diberi tenggat waktu hingga 31 Juli 2018.





(AZF)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.