15 Saksi Diperiksa Terkait Pemblokiran Rekening Jiwasraya

    Cindy - 19 Februari 2020 07:21 WIB
    15 Saksi Diperiksa Terkait Pemblokiran Rekening Jiwasraya
    Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Hari Setiyono. Foto: Medcom/Cindy
    Jakarta: Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa 15 saksi terkait kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Mereka diminta keterangan perihal pembukaan blokir rekening aset yang diduga berkaitan dengan skandal rasuah di perusahaan plat merah tersebut.

    "Jadi masih dikaitkan kalau betul si A nomor (rekening aset) sekian, kita cek lagi ada kaitannya enggak dengan kasus Jiwasraya," kata Kapuspenkum Hari Setiono di Kompleks Kejagung, Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020. 

    Menurut Hari, penyidik membutuhkan waktu untuk memeriksa seluruh rekening efek yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut. Penyidik masih membuka kesempatan pagi pemilik rekening untuk melapor pembukaan blokir. 

    "Diakomodir, diundang, diklarifikasi, kalau memang tidak ada kaitannya, penyidik bijak membuka blokir itu," ucap Hari. 

    Hari mengatakan sejauh ini sebanyak 42 pemilik rekening telah melaporkan pembukaan blokir. Meski telah diklarifikasi, penyidik belum memutuskan untuk membuka pemblokiran.

    "Mudah-mudahan minggu depan penyidik bisa menyimpulkan. Kita masih klarifikasi dulu," kata Hari.

    15 Saksi Diperiksa Terkait Pemblokiran Rekening Jiwasraya
    Ilustrasi Jiwasraya MI/Ramdani

    Sebanyak 800 rekening efek yang diduga berkaitan dengan kasus korupsi Jiwasraya diblokir. Pemblokiran tersebut atas hasil audit forensik oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

    Kejagung menetapkan enam tersangka terkait kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Mereka ialah Komisaris PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro; Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk, Heru Hidayat; dan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim.

    Selanjutnya, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Jiwasraya, Syahmirwan; mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo; dan Direktur Utama PT Maxima Integra Joko Hartoni Tirto. Teranyar, Benny dan Heru ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang.
     
    Mereka dijerat Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b serta Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id