KPK Telisik Aliran Uang Suap Garuda

    Juven Martua Sitompul - 12 Juli 2019 01:30 WIB
    KPK Telisik Aliran Uang Suap Garuda
    Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto.
    Jakarta: Mantan Manager Administrasi & Finance Connaught Internasional Pte. Ltd, Sallyawati Rahardja selesai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia periksa sebagai saksi kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero).

    Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan dalam pemeriksaan itu, penyidik mengonfirmasi pengetahuan Sallyawati terkait adanya aliran dana suap yang diterima tersangka mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar.
    "Tim mengonfirmasi pengetahuan saksi terkait dengan aliran uang yang diduga diterima oleh EMS sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 11 Juli 2019.

    KPK menemukan adanya aliran dana suap baru yang berkaitan dengan perkara ini. Uang haram itu mengalir antat lintas negara melalui sejumlah rekening.

    Temuan ini telah ditelusuri penyidik melalui pemeriksaan Emirsyah Satar kemarin. Termasuk, satu tersangka lainnya yakni pendiri PT Mugi Rekso Abadi sekaligus beneficial owner Connaught International Pte. Ltd, Soetikno Soedarjo.

    Soetikno Soedarjo dan Emirsyah Satar ditetapkan sebagai tersangka sejak 16 Januari 2017. Namun, hingga saat ini KPK belum juga merampungkan penyidikan kasus dugaan suap di PT Garuda. Penyidik bahkan belum menahan kedua tersangka tersebut.

    Emirsyah Satar diduga menerima suap dalam bentuk transfer uang dan aset yang nilainya mencapai lebih dari USD4 juta atau setara dengan Rp52 miliar dari perusahaan asal Inggris yakni Rolls-Royce, di antaranya melalui Soetikno Soedarjo dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd.

    Diduga suap terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai Dirut PT GarudaIndonesia pada 2005 hingga 2014. Emirsyah juga disinyalir menerima suap terkait pembelian pesawat dari Airbus.

    Dalam proses penyidikan kasus ini, KPK telah menyita sebuah rumah di daerah Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Rumah yang disita tersebut senilai Rp8,5 miliar. Kuat dugaan uang untuk membeli rumah tersebut berasal dari Soetikno Soedarjo.




    (WHS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id