Komisaris PT WAE Didakwa Menyuap Pegawai Pajak Rp1,8 Miliar

    Fachri Audhia Hafiez - 03 Februari 2020 14:11 WIB
    Komisaris PT WAE Didakwa Menyuap Pegawai Pajak Rp1,8 Miliar
    Komisaris Utama PT Wahana Auto Ekamarga (WAE) Darwin Maspolim. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
    Jakarta: Komisaris Utama PT Wahana Auto Ekamarga (WAE) Darwin Maspolim didakwa menyuap pegawai pajak sebanyak USD131.200 atau sekitar Rp1,8 miliar. Suap untuk menyetujui pengajuan pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau restitusi PT WAE pada 2015 dan 2016.

    "Telah melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan memberi atau menjanjikan sesuatu yaitu memberi uang USD131.200 kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara," kata jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Takdir Suhan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 3 Februari 2020.

    Suap diberikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) 3 Jakarta Yul Dirga. Uang rasuah juga mengalir kepada tiga pemeriksa pajak KPP PMA 3 Jakarta, yakni Hadi Sutrisno selaku supervisor, Jumari selaku ketua tim dan Muhammad Naim Fahmi selaku anggota.

    Takdir menuturkan pengajuan restitusi pajak distributor mobil mewah itu Rp5,03 miliar pada 2015 dan Rp2,7 miliar pada 2016. Namun dalam prosesnya terdapat permintaan imbalan atau fee.

    Darwin didakwa melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-undang (UU) No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

    Darwin keberatan atas dakwaan tersebut dan akan mengajukan eksepsi. Majelis hakim menjadwalkan sidang dengan agenda pembacaan eksepsi pada Senin, 10 Februari 2020.

    Pemberian uang terkait pemeriksaan pajak 2015

    Darwin melaporkan kelebihan pajak PT WAE ke KPP PMA 3 dengan mengajukan restitusi Rp5,03 miliar berdasarkan SPT PPh PT WAE tahun 2015 pada 27 April 2016. Hadi, Jumari, dan Naim ditunjuk sebagai tim pemeriksa kelebihan pajak.

    Tim pemeriksa menyampaikan daftar temuan itu dan melaporkan ke Yul Dirga pada 31 Maret 2017. Kemudian, Hadi atas persetujuan Yul Dirga menawarkan bantuan agar permohonan restitusi dapat disetujui dengan fee Rp1 miliar.

    Darwin menyetujui permintaan tersebut. Tim pemeriksa mengusulkan agar KPP PMA menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar PPh Badan untuk PT WAE 2015 cuma Rp4,59 miliar. Darwin menyerahkan uang USD73.700 kepada Hadi Sutrisno.

    "Uang itu dibagi empat untuk tim pemeriksa yakni Hadi, Jumari, Naim, dan Yul Dirga sehingga masing-masing mendapatkan bagian USD18.425," beber Takdir.

    Pemberian uang terkait pemeriksaan pajak 2016

    Darwin kembali melapor ke KPP PMA 3 untuk mengajukan restitusi Rp2,7 miliar pada 8 Juni 2016. Tim pemeriksa yang ditunjuk sama dan dalam prosesnya juga ada permintaan fee Rp1 miliar. 

    Namun, Darwin cuma menyetujui memberikan Rp800 juta. Uang ditukarkan dalam bentuk dolar Amerika Serikat, USD57.500.

    "Selanjutnya uang tersebut oleh Hadi dibagi empat, untuk tim pemeriksa Hadi, Jumari, dan Naim masing-masing USD13.700 serta Yul Dirga USD14.400," ujar Takdir.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id