Buron Penjual Data Kependudukan Terlacak

    Cindy - 23 Agustus 2019 14:31 WIB
    Buron Penjual Data Kependudukan Terlacak
    Kejahatan siber. Ilustrasi: Medcom.id/Rakhmat Riyandi.
    Jakarta: Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengendus keberadaan satu buron kasus penjualan data kependudukan. Buron yang tidak disebutkan identitasnya itu berada di Jawa Timur. 

    "Belum (ditangkap). Soalnya dia pakai akun anonim. Jadi enggak gampang melacaknya," kata Kepala Subdirektorat (Subdit) II Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Kombes Rickynaldo Chairul di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 23 Agustus 2019. 

    Menurut dia, buron ini berperan sebagai pemasok data pribadi kepada tersangka C. Buron itu bekerja sebagai marketing di salah satu bank nasional. 

    Selain buron yang masih dikejar, kata dia, belum diketahui adanya tersangka penjual data pribadi lainnya. Penyidikan masih membutuhkan waktu untuk mengembangkan perkara.

    "Satu per satu (pengungkapan). Kita enggak bisa kira-kira sepuluh orang. Enggak bisa, diurut satu-satu," ucap Rickynaldo. 

    Sebelumnya, penjual nomor induk kependudukan (NIK) dan kartu keluarga (KK) lewat media sosial, C, ditangkap Selasa, 6 Agustus 2019, di Depok, Jawa Barat. C beraksi dengan modus transaksi lewat situs temanmarketing.com dan WhatsApp.

    C ditangkap setelah polisi menyamar sebagai pembeli melalui aplikasi temanmarketing.com. Setelah pemesanan, petugas akhirnya mendapatkan bukti transaksi. 

    "C sempat menawarkan beberapa paket yang harganya disesuaikan dengan jumlah data. Harga dari mulai Rp350.000 hingga Rp20 juta," Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim, Kombes Polisi Asep Syafruddin, di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 15 Agustus 2019. 

    Baca: Polri Ancam Pelaku Jual Beli Data Kependudukan

    Asep mengatakan C memiliki jutaan data meliputi nama lengkap, nomor telepon genggam, alamat, dan NIK. C bahkan mengantongi nomor KK, rekening bank, nomor kartu kredit, serta data pribadi lain.

    Polisi masih mendalami sumber data dan konsumen pelaku. Dari keterangan awal, pelaku mendapatkan data dari seseorang berinisial I. I mendapatkan komisi sebesar Rp50.000 dari setiap transaksi.

    "Dari mana dia mendapatkannya, kemudian kepada siapa dia menjualnya, konsumennya, itu tim kami masih terus melakukan pendalaman secara lebih jelas lagi terhadap kasus ini," pungkas Asep.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id