Bowo Sidik Menyesal

    Fachri Audhia Hafiez - 23 Oktober 2019 15:42 WIB
    Bowo Sidik Menyesal
    Suasana sidang dengan terdakwa eks anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso diperiksa sebagai terdakwa. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
    Jakarta: Terdakwa kasus dugaan suap dan gratifikasi, Bowo Sidik Pangarso, menyesal telah melakukan korupsi. Dia menyadari tindakannya salah.

    "Terus terang sangat menyesal dengan kejadian ini. Karena kesalahan saya, saya kurang memahami tentang larangan penyelenggara untuk menerima sesuatu," ujar Bowo saat diperiksa sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 23 Oktober 2019.

    Eks anggota Komisi VI DPR itu mengaku telah membeberkan semua keterangan yang diketahui kepada majelis hakim. Dia memastikan keterangannya bisa dipertanggungjawabkan.

    "(Keterangan) benar apa adanya, dan tidak kurang, dan saya tambahkan. Itu bagian, saya kooperatif, saya ingin semua berjalan dengan lancar," ujar Bowo.

    Sidang perkara yang menjerat Bowo segera masuk ke penuntutan. Majelis hakim menjadwalkan sidang tuntutan pada Rabu, 6 November 2019

    "Penuntut umum untuk mempersiapkan tuntutannya minta waktu dua minggu," ujar Ketua Majelis Hakim Yanto.

    Bowo sebelumnya didakwa menerima gratifikasi SGD700 ribu dan Rp600 juta. Penerimaan uang terkait kewenangan Bowo sebagai wakil ketua komisi VI dan Badan Anggaran (Banggar) DPR.

    Bowo didakwa melanggar Pasal 12 B ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 65 KUHP.

    Bowo juga didakwa menerima suap dari Marketing Manajer Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asty Winasti, dan Direktur PT HTK, Taufik Agustono, USD163.733 dan Rp311.022.932. Suap diterima secara langsung maupun melalui orang kepercayaan Bowo, M Indung Andriani K.

    Politikus Golkar itu pun turut diduga menerima suap dari Direktur Utama PT Ardila Insan Sejahtera, Lamidi Jimat. Anggota DPR periode 2014-2019 itu menerima Rp300 juta dari Lamidi.

    Dalam perkara suap, Bowo didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1  KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id