Pinjaman Online Jalan Pintas Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19

    Siti Yona Hukmana - 29 Juli 2021 19:09 WIB
    Pinjaman <i>Online</i> Jalan Pintas Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19
    Bareskrim Polri membongkar kasus pinjaman online (pinjol) dengan modus koperasi simpan pinjam. Foto: Medcom/ Yona



    Jakarta: Polisi membongkar kasus pinjaman online (pinjol) ilegal beberapa waktu lalu. Pinjol menjadi jalan pintas masyarakat dalam menghadapi krisis ekonomi di tengah pandemi covid-19.

    "Pada situasi pandemi, masyarakat tetap membutuhkan dana. Ada yang untuk kebutuhan hidup di rumah tangganya, ada juga yang butuh modal usahanya agar usahanya tetap berjalan walaupun pada masa pandemi ini," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 29 Juli 2021. 

     



    Rusdi mengatakan pinjaman online menjadi salah satu pilihan favorit masyarakat. Sebab, proses peminjaman mudah, pencairan dananya cepat, bunga yang ditawarkan rendah, dan tenor pengembalian dana panjang.  

    Namun, pada saat proses pembayaran cicilan muncul permasalahan. Tenor yang panjang menjadi singkat, bunga yang semula dalam perjanjian kecil menjadi besar. Akibatnya, terjadi keterlambatan pembayaran dari masyarakat. 

    Baca: 6 Pelaku Pinjol Bermodus Koperasi Ditangkap

    "Maka proses selanjutnya ada pengancaman yang dilakukan para debt collector yang bekerja pada perusahaan peminjamannya. Sehingga, hal-hal seperti ini menimbulkan masalah di masyarakat," ungkap jenderal bintang satu itu. 

    Sebelumnya, Bareskrim Polri mengungkap kasus pinjol dengan modus aplikasi dan koperasi simpan pinjam (KSP). Ada KSP Hidup Hijau, Cinta Damai, Pulau Bahagia, Dana Darurat, Dana Cepat Cair dan Pinjaman Kejutan Super. Sejumlah KSP itu tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Debt collector melakukan pencemaran nama baik terhadap peminjam yang telat melakukan pembayaran. Fitnah dilakukan mulai dari disebut sebagai bandar sabu hingga menampilkan foto editan peminjam yang tidak senonoh. 

    Sebanyak enam pelaku ditangkap pada Juni 2021 dan dua tersangka lainnya masih diburu. Dua orang itu warga negara asing (WNA). Polisi telah mengeluarkan daftar pencarian orang (DPO) dan pencegahan ke luar negeri terhadap dua WNA itu. 

    Keenam tersangka telah ditahan. Mereka dijerat Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 8 ayat (1) huruf f jo Pasal 62 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan atau Pasal 311 KUHP tentang Fitnah. Dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

    (NUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id