Mantan Direktur PTPN XI Jadi Tersangka Korupsi Mesin Pabrik Gula

    Candra Yuri Nuralam - 25 November 2021 18:17 WIB
    Mantan Direktur PTPN XI Jadi Tersangka Korupsi Mesin Pabrik Gula
    Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 25 November 2021. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam



    Jakarta: Mantan Direktur Produksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI Budi Adi Prabowo menjadi tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia terjerat kasus rasuah pengadaan dan pemasangan six roll mill di Pabrik Gula (PG) Djatiroto PT PTPN XI periode 2015-2016. 

    Kasus ini turut menyeret Direktur PT Wahyu Daya Mandiri Arif Hendrawan. Budi dan Arif kini ditahan KPK.

    "Tim penyidik melakukan upaya paksa penahanan pada para tersangka untuk 20 hari pertama, terhitung mulai tanggal 25 November 2021 sampai dengan 14 Desember 2021," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 25 November 2021.

    Baca: Yoory Disebut Perintahkan Backdate Terkait Administrasi Pengadaan Tanah di Munjul

    Menurut dia, kedua tersangka kongkalikong pada 2015 agar pengadaan mesin giling di PG Djatiroto dikerjakan Arif sebelum lelang dilakukan. Untuk melancarkan aksinya, Budi sempat studi banding ke Thailand. 

    Studi banding itu diduga dibiayai Arif. Dia memberikan uang untuk studi banding agar Budi makin yakin memberikan proyek itu kepadanya.

    "Disertai dengan adanya pemberian sejumlah uang kepada rombongan yang ikut, termasuk salah satunya tersangka BAP (Budi Adi Prabowo)," ujar Alex.

    Sepulangnya dari studi banding itu, Budi langsung memerintahkan bawahannya untuk memproses lelang. Budi mengupayakan perusahaan Arif menang karena sudah ada kongkalikong sebelumnya.

    Arif juga menyiapkan perusahaan lain dalam proses lelang itu. Perusahaan ini untuk menghilangkan kecurigaan dalam permainan ini.

    "Selain itu, tersangka AH (Arif Hendrawan) juga aktif dalam proses penyusunan spesifikasi teknis harga barang yang dijadikan sebagai acuan awal dalam penentuan harga perkiraan sendiri senilai Rp78 miliar termasuk data-data kelengkapan untuk lelang pengadaan satu lot six roll mill di PG Djatiroto," tutur Alex.

    Uang Rp78 miliar itu hasil kesepakatan Budi dan Arif. Lembaga Antikorupsi menduga negara merugi Rp15 miliar dari permainan mereka. Budi juga diduga menerima mobil dari Arif.

    Setelah menemukan bukti yang cukup, KPK menahan kedua tersangka. Budi dikurung di Rumah Tahanan (Rutan) KPK cabang Gedung Merah Putih, sedangkan Arif di Rutan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur.

    Keduanya akan menjalani isolasi mandiri selama 14 hari terlebih dahulu sebelum menjalani masa tahanan. Isolasi mandiri ini dilakukan di rutan masing-masing.

    "Agar tetap mengantisipasi penyebaran covid-19 di lingkungan rutan KPK," tutur Alex.

    Keduanya disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).(OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id