KPK Belum Tetapkan PT ACK Sebagai Tersangka Suap Ekspor Benur

    Candra Yuri Nuralam - 02 Desember 2020 10:06 WIB
    KPK Belum Tetapkan PT ACK Sebagai Tersangka Suap Ekspor Benur
    Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). MI
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menetapkan PT Aero Citra Kargo (PT ACK) sebagai tersangka korporasi dalam kasus dugaan korupsi ekspor benur atau benih lobster. Perusahaan forwarder itu baru digeledah demi mengumpulkan bukti untuk tujuh tersangka yang ditetapkan.

    "Untuk saat ini KPK fokus pada pembuktian unsur-unsur pasal yang dipersangkakan atas diri tujuh tersangka tersebut," kata pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Rabu, 3 Desember 2020.

    Penyidik KPK masih mendalami beberapa saksi dari kasus yang menyeret nama mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ini. Seluruh keterangan saksi akan dianalisis sebelum menentukan status PT ACK.

    Baca: Kasus Benih Lobster, KPK Selisik Aliran Dana ke Ali Mochtar Ngabalin

    KPK tidak segan akan menaikkan status PT ACK sebagai tersangka jika bukti cukup. Lembaga antikorupsi itu bakal melibas siapa pun yang berani bermain dalam uang haram ekspor benih lobster.

    "Jika kemudian ditemukan ada bukti permulaan yang cukup, KPK tidak segan untuk menetapkan pihak-pihak lain sebagai tersangka dalam perkara ini termasuk tentu jika ada dugaan keterlibatan pihak korporasi," ujar Ali.

    Penyidik KPK menggeledah PT ACK terkait dugaan korupsi ekspor benih lobster kemarin. Penggeledahan berlangsung sejak pukul 02.30 WIB, Selasa, 1 Desember 2020.

    Dari penggeledahan itu, petugas KPK menemukan beberapa dokumen terkait ekspor benih lobster dan bukti elektronik. Semua bukti itu dibawa petugas.

    Dalam kasus ini, KPK telah mendalami peran PT Perishable Logistic Indonesia (PT PLI) yang diduga berkongsi dengan PT ACK. Terlebih, pengendali PT PLI sempat diamankan dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 25 November 2020.

    Perkara ini menjerat Edhy Prabowo yang ditetapkan sebagai tersangka bersama enam orang lainnya. Tersangka penerima suap yakni Staf Khusus Menteri KP Safri, Staf Khusus Menteri KP Andreau Pribadi Misanta, pengurus PT ACK Siswadi, istri Staf Menteri KP Ainul Faqih, Amiril Mukminin, serta Edhy Prabowo.

    Baca: Kantor Forwarder Benih Lobster Digeledah KPK

    Satu tersangka sebagai pemberi yakni Direktur PT DPP Suharjito. Edhy diduga menerima Rp3,4 miliar dan USD100ribu (Rp1,4 miliar, kurs Rp14.200) dalam korupsi tersebut. Sebagian uang digunakan untuk berbelanja dengan istri serta Andreau dan Safri ke Honolulu, Hawaii.

    Diduga, ada monopoli yang dilakukan KKP dalam kasus ini. Sebab ekspor benih lobster hanya bisa dilakukan melalui PT ACK dengan biaya angkut Rp1.800 per ekor.

    Penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    Sementara itu, pemberi suap dijeart Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id