Bareskrim Akui Kesulitan Memberantas Pinjol Ilegal

    Yakub Pryatama Wijayaatmaja - 20 Juni 2021 06:50 WIB
    Bareskrim Akui Kesulitan Memberantas Pinjol Ilegal
    Ilustrasi. Medcom.id



    Jakarta: Bareskrim Polri mengakui kesulitan memberantas pelaku pinjaman online (pinjol) ilegal. Kepolisian harus memilah data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengetahui mana pinjol yang masih buka atau tutup akun.

    “Sampai dengan saat ini penyidik Dittipideksus intens berkoordinasi dengan OJK, PPATK, perbankan, dan Dittipisiber Bareskrim untuk melakukan analisis dan penyelidikan tentang hal itu," ujar Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Helmy Santika, Jakarta, Sabtu, 19 Juni 2021.

     



    OJK mencatat ada 3.193 aplikasi pinjol ilegal yang beredar. Helmy menegaskan Bareskrim akan terus menjawab keresahan masyarakat dengan mengungkap kasus-kasus perkara pinjol ilegal.

    "Kasus pinjol (fintech peer to peer landing) yang diungkap Dittipideksus Bareskrim baru-baru ini diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat, sekaligus menjadi trigger kepada jajaran untuk lebih responsif menjawab yang menjadi keresahan masyarakat," ujar dia.

    Helmy membeberkan modus dari pelaku pinjol ilegal yang mengambil data pribadi nasabah. Caranya, kata Helmy, dengan mengirimkan pesan singkat atau SMS secara acak (SMS blasting) agar calon korban yang sedang butuh uang masuk ke dalam aplikasi. Data pribadi korban ditarik saat momen tersebut.

    “Kemudian, begitu ada calon korban masuk (karena sedang butuh uang), secara aplikasi memberikan persetujuan untuk data ditarik oleh penyedia pinjol," ujar dia.

    Baca: Bareskrim Bakal Bongkar Jaringan Pinjol Ilegal

    Setelah mendapatkan persetujuan, uang diberikan pinjol ilegal melalui virtual account. Menurut dia, pengiriman seperti itu mempersulit pengawasan dari pihak bank.

    "Uang pinjaman dan pembayaran kemudian diberikan melalui rekening yang sudah diberikan (seperti virtual account). Sehingga mempersulit pengawasan oleh bank," ujar dia.

    Sebelumnya, Bareskrim Polri membongkar praktik pinjol ilegal perusahaan, Rp Cepat, yang dikendalikan warga negara Tiongkok. Mereka menggunakan aplikasi dari Tiongkok untuk menyedot data-data peminjamnya.

    Polisi menangkap lima tersangka, yakni EDP, BT, ACJ, SS, dan MRK. Mereka merupakan pelaku lapangan yang bertugas sebagai penagih utang ke nasabah.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id