Kivlan Ajukan Empat Gugatan Praperadilan

    Kautsar Widya Prabowo - 23 Agustus 2019 14:05 WIB
    Kivlan Ajukan Empat Gugatan Praperadilan
    Mantan Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen. Foto: Medcom.id/Cindy.
    Jakarta: Tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen mengajukan empat gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Hal ini menjadi gugatan praperadilan kedua setelah permohonan sebelumnya ditolak.

    Ketua Tim Kuasa hukum Tonin Tachta mengatakan empat gugatan diajukan untuk memudahkan hakim menyelesaikan permasalahan. Dia mengeklaim gugurnya praperadilan pertama lantaran hakim tak fokus dengan permohonan yang diajukan.

    "Sidang sebelumnya kita tidak rinci, digabung. Ternyata membuat hakim tunggal bingung memilah, dan saksi yang kami hadirkan juga bingung mana yang penetapan tersangka, mana penahanan, dan seterusnya," kata Tonin, di PN Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Ragunan, Pasar Minggu, Jumat, 23 Agustus 2019.

    Menurut dia, gugatan pertama bernomor 96/Pid.Pra/2019/PN.JKT.Sel. terkait penahan. Dia menyebut penahanan Kivlan tidak sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KHUP) karena ada tumpang tindih tanggal.

    Gugatan kedua bernomor 97/Pid.Pra/2019/PN.JKT.Sel. terkait penyitaan barang pribadi Kivlan. Penyitaan terhadap barang Kivlan dianggap melanggar hukum karena tidak ada penetapan terlebih dahulu dari ketua pengadilan. 

    Baca: Permohonan Praperadilan Kivlan Zen Ditolak

    Pemohonan praperadilan bernomor 98/Pid.Pra/2019/PN.JKT.Sel. terkait penangkapan. Hal ini dipermasalahkan karena prosedur penangkapan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu tanpa menunjukkan surat penangkapan. 

    Gugatan keempat bernomor 99/Pid.Pra/2019/PN.JKT.Sel. terkait penetapan tersangka yang tidak melampirkan berita acara pemeriksaan (BAP). "Jadi BAP-nya dianggap sudah ada, BAP-nya sebelum ditangkap bukan setelah ditangkap, kalau tidak terpenuhi berarti tersangkanya dianulir," jelas dia.

    Empat perkara tersebut dieksekusi PN Jakarta Selatan dengan empat hakim yang berbeda: Djoko Indiarto, Ratmoho, Krisnugroho, dan Dedy Hermawan. Keempat permohonan disidangkan mulai hari ini.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id