Polisi Buru Pemasok Molotov saat Aksi 22

    Candra Yuri Nuralam - 16 Juli 2019 09:09 WIB
    Polisi Buru Pemasok Molotov saat Aksi 22
    Massa aksi lari berhamburan menghindari gas air mata saat terlibat bentrok dengan polisi di Jalan Wahid Hasyim, depan gedung Bawaslu, Jakarta. Foto: MI/Ramdani.
    Jakarta: Pemasok senjata yang digunakan untuk menyerang petugas pada kerusuhan di demonstrasi penolakan hasil pemilihan presiden (pilpres) dalam aksi 21 dan 22 Mei 2019 diburu polisi. Kerusuhan ini diduga sudah direncanakan.

    "Bom molotov itu enggak mungkin dipersiapkan dalam waktu dua jam itu enggak mungkin tapi perlu waktu berhari-hari. Siapa yang menyiapkan petasan roket," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin, 15 Juli 2019.

    Dedi memastikan petasan yang menjadi senjata juga sudah disiapkan. Hal ini didasari lantaran tidak adanya penjual petasan di sekitaran lokasi kejadian.

    Polisi menduga pemasok senjata merupakan orang yang sama dengan kasus ambulans partai berisi batu. Semuanya sedang dalam penyelidikan.

    "Pasti, kalau ambulans hanya menyiapkan logistik, orang, batu, sedang di dalami semuanya," ujar Dedi.

    Kendati demikian, Dedi tidak bisa memberikan informasi lebih lantaran kasus masih belum selesai. Dia berjanji akan membeberkan kepada publik secepatnya.

    Sebelumnya, Dedi mengungkapkan ada sekitar delapan kelompok yang terlibat dalam kericuhan aksi 21-22 Mei. Pihaknya masih mendalami aktor di balik kelompok-kelompok itu.  

    "Alat-alat apa yang disiapkan, berapa jumlah uang yang diberikan kepada kelompok-kelompok tersebut untuk melakukan penyerangan kepada aparat," kata Dedi, Jumat, 5 Juli 2019. 

    Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Suyudi Ario Seto mengatakan delapan kelompok itu meliputi oknum dari kelompok Islam, organisasi masyarakat (ormas), partai politik, dan relawan. Kelompok Islam tersebut berasal dari berbagai wilayah.

    Baca: Polisi Diinterogasi Komnas HAM Pekan Depan

    Sementara itu, ormas yang diduga turut melakukan kericuhan yakni Garis, Forkabi, Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) dan Pemuda Muhammadiyah. Partai politik yang turut terlibat berinisial GR, PN, dan PS. Selain itu, relawan politik yang terlibat antara lain RMP, Garda08, dan Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi. 

    Dedi menyebut ada kelompok besar yang bermain untuk melakukan upaya penyerangan hingga menyebabkan kematian. Kelompok teroris juga menyatakan akan menyerang saat aksi demo 21-22 Mei. 

    Polisi juga berhasil mengendus kelompok Mayjen (Purn) Kivlan Zen yang ditangkap bersama enam tersangka lain. Dari penangkapan tersebut, sebanyak empat senjata api rakitan diamankan. 



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id