Sidang Vonis Ratna Sarumpaet tak Boleh Disiarkan Langsung

    Arga sumantri, Siti Yona Hukmana - 11 Juli 2019 09:05 WIB
    Sidang Vonis Ratna Sarumpaet tak Boleh Disiarkan Langsung
    Ratna Sarumpaet. Foto: Medcom.id/ Ilham Pratama
    Jakarta: Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan dijadwalkan menggelar sidang vonis terdakwa kasus penyebar berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet, hari ini, Kamis, 11 Juli 2019 pukul 09.00 WIB. Namun sidang tuntutan itu tidak boleh disiarkan langsung (live). 

    "Tidak boleh live. Dari sidang pertama sudah tidak diizinkan oleh Ketua Majelis Hakim dan itu disampaikan di muka pesiidangan," kata Humas PN Jakarta Selatan Achmad Guntur kepada Medcom.id, Kamis, 10 Juli 2019. 

    Larangan tidak boleh disiarkan langsung itu bukan hanya bagi media televisi saja. Menurut Guntur, Hakim juga melarang media online atau digital yang menyiarkan secara live melalui telepon genggam. 

    "Semuanya tidak diizinkan, cuma kalau media online memang enggak sempat terpantau. Tapi itu tetap enggak diizinkan," ujar dia. 

    Guntur berharap semua awak media mematuhi aturan itu. Meski, tidak semua kegiatan media itu dipantau oleh petugas PN Jakarta Selatan. 

    "Harusnya kalau sudah tidak diperkenankan siaran langsung ya harus dipatuhi," ujar dia.

    Sementara itu, Kuasa Hukum Ratna Sarumpaet, Desmihardi berharap, majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mempertimbangkan dan menerima pledoi kliennya. Selain itu, dia berharap vonis majelis hakim mengacu fakta persidangan.

    "Dan keyakinan hakim yang didapat dari fakta persidangan bahwa keonaran sesuai dakwaan Jaksa Penuntut Umum tidak pernah terjadi dan tidak terbukti," kata Desmihardi. 

    Ratna dituntut enam tahun penjara. Dia dinilai terbukti menyiarkan berita bohong tentang penganiayaan terhadap dirinya. Dia kemudian mengirim foto gambar wajah lebam dan bengkak kepada sejumlah orang. 

    Tuntutan ini sudah berdasarkan fakta persidangan. Jaksa tak menemukan alasan untuk membebaskan Ratna.

    Hal yang memberatkan tuntutan Ratna ialah dia dikenal sebagai orang yang berintelektual, tetapi tidak berperilaku baik. Ratna juga kerap memberikan keterangan berbelit di persidangan.

    Ratna dinilai terbukti bersalah melanggar Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946  tentang Peraturan Hukum Pidana. Dia dinilai telah menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dan dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat




    (SCI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id