Polisi Sebut Tenda Bukti Acara Rizieq Dipersiapkan untuk Banyak Massa

    Siti Yona Hukmana - 03 Desember 2020 22:24 WIB
    Polisi Sebut Tenda Bukti Acara Rizieq Dipersiapkan untuk Banyak Massa
    (Ilustrasi) Pimpinan FPI Rizieq Shihab. MI/Arya Manggala
    Jakarta: Pemasangan tenda pada acara akad nikah anak Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab menjadi fokus utama kepolisian dalam mengusut kasus pelanggaran protokol kesehatan. Pengadaan tenda itu dinilai untuk mempersiapkan kedatangan banyak massa.

    "Kira-kira tenda buat apa? Ya iya dalam rangka mempersiapkan (banyak massa)," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis, 3 Desember 2020.

    Tubagus belum memastikan jumlah undangan dalam acara akad nikah itu. Hanya saja, pihaknya sudah mengantongi fakta bahwa ada persiapan untuk menerima estimasi massa dalam jumlah besar.

    "Faktanya kan ada persiapan, ada tendanya itu kan sebagai wujud persiapan, kalau misalnya enggak dipasang tenda atau enggak ada acara apa-apa masa iya orang masang-masang tenda," kata Tubagus.

    Tubagus tidak menegaskan tenda bisa dijadikan sebagai alat bukti. Tubagus mempersilakan semua orang menilai hal tersebut. "Silakan diambil kesimpulannya lah," ucapnya.

    Penyidik Sudit Keamanan Negara (Kamneg) beberapa kali sudah berupaya memeriksa pegawai tenda, baik sopir, kenek hingga petugas pemasang tenda. Namun, belum ada satupun yang memenuhi panggilan.

    Begitu juga Rizieq yang absen panggilan pemeriksaan pada Selasa, 1 Desember 2020. Penyidik telah menjadwalkan ulang pemeriksaan pentolan FPI itu pada Senin, 7 Desember 2020.

    Baca: Pengamat: Pencegahan Kerumunan Rizieq Seharusnya dengan Ultimatum

    Akad nikah anak Rizieq dan Maulid Nabi Muhammad SAW di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 14 November 2020 ramai didatangi pengikut Rizieq. Banyak jemaah yang berkerumun, tidak menjaga jarak, dan berpotensi meningkatkan penyebaran covid-19.

    Sejumlah peserta juga kedapatan tidak menggunakan masker. Banyak pula peserta acara menggunakan masker tak sesuai ketentuan, seperti digunakan di bawah dagu. Akibatnya, terjadi klaster baru penyebaran covid-19 di lokasi tersebut.

    Polisi menyatakan ada unsur pidana dalam pelanggaran protokol kesehatan tersebut. Kini polisi tengah mencari tersangka yang bisa dikenakan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, dengan ancaman kurungan satu tahun atau denda Rp100 juta.

    Lalu, Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan untuk Melakukan Kekerasan dan Tidak Menuruti Ketentuang Undang-undang, dengan ancaman enam tahun penjara atau denda Rp4.500. Pasal 216 ayat 1 KUHP tentang Menghalang-halangi Ketentuan Undang-undang, dengan ancaman pidana penjara empat bulan dua minggu atau denda Rp9.000.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id