Lagi, Sindikat Mafia Tanah Gasak Rumah Mewah Rp30 Miliar di Cilandak

    Siti Yona Hukmana - 08 April 2021 22:16 WIB
    Lagi, Sindikat Mafia Tanah Gasak Rumah Mewah Rp30 Miliar di Cilandak
    Kuasa hukum LS, Anang Yuliardi Chaidir/Medcom.id/Siti



    Jakarta: Polda Metro Jaya kembali menerima laporan terkait kasus mafia tanah. Kali ini sindikat mafia tanah menggasak rumah mewah milik korban LS, senilai Rp30 miliar di Jalan Pinang Raya, Cilandak, Jakarta Selatan. 

    Kasus mafia tanah ini berawal saat korban mengagunkan rumahnya kepada seseorang pada awal 2020. Hasil penggadaian rumah itu korban menerima uang pinjaman sebesar Rp9 miliar.






    "Pada waktu dia pinjam, ternyata bukan perjanjian utang piutang yang diberikan, tapi Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPBJ) dan akta kuasa jual," kata kuasa hukum LS, Anang Yuliardi Chaidir, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis, 8 April 2021.

    Korban sempat menolak PPBJ itu, karena tidak berniat menjual rumah tersebut. Namun, terlapor dengan lihainya meyakinkan korban proses itu normal dalam peminjaman uang. 

    "Enggak apa-apa, ini buat persyaratan saja, nanti kalau gagal bayar, kita jual sama-sama aset ini. Seperti itu lah pelaku ini meyakinkannya," ujar Anang.

    Korban yang saat itu kepepet dan membutuhkan uang, akhirnya setuju dengan sistem PPJB. LS awalnya mengajukan pinjaman uang Rp6 miliar. Namun, terlapor membujuknya untuk menaikkan jumlah pinjaman menjadi Rp12 miliar. 

    Setelah setuju, korban menerima uang pinjaman Rp9 miliar setelah dipotong bunga di awal. Sebelumnya, pelaku meminta LS menandatangani surat kuasa mutlak atas rumah tersebut. Korban yang tak begitu mengerti hukum, tak sadar bahwa surat kuasa itu membuat pelaku leluasa mengelola aset rumah itu.  

    "Korban sudah sempat membayar angsuran empat kali. Lalu, ketika korban sudah mulai gagal bayar, pelaku bersama notaris membuat akta jual beli berdasarkan kuasa mutlak tadi," ucap Anang.

    Pelaku melakukan balik nama atas sertifikat kepemilikan rumah mewah LS bermodal surat kuasa mutlak. Pelaku juga telah menjual rumah tersebut kepada seseorang seharga Rp9 miliar tanpa persetujuan LS pada akhir 2020. 

    "Padahal harga rumah itu sesuai NJOP Rp30 miliar. Kalau korban jual, dia bisa mengembalikan pinjaman itu," kata Anang. 

    Selanjutnya, pelaku menyewa beberapa preman untuk mengusir LS beserta penghuni rumah mewah yang dijadikan indekos itu. Para penghuni diusir secara paksa dan tak diperbolehkan membawa barang apa pun dari rumah tersebut. 

    Padahal, menurut LS saat itu ada 10 orang penghuni indekos di rumahnya. Mereka juga turut menjadi korban karena barang-barangnya harus ditinggalkan.

    "Saya mohon Bapak Presiden Jokowi, dan pihak yang berwenang (polisi) bisa cepat menangani sindikat mafia tanah ini. Agar bisa diberantas dan tidak ada lagi korban," kata LS. 

    LS bersama kuasa hukum melaporkan terlapor yang belum disebutkan identitasnya itu ke Polda Metro Jaya. Terlapor yang masih lidik itu diduga melakukan penipuan, penggelapan, penyerobotan tanah, dan pemalsuan akta autentik. 

    Terlapor dijerat Pasal 378 KUHP, 372 KUHP, dan atau 385 KUHP tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Laporan terdaftar dengan nomor : LP/1878/IV/YAN.2.5/2021/SPKT PMJ tertanggal, 8 April 2021. Pihak Polda Metro Jaya bakal memverifikasi laporan tersebut. 

    "Saya cek dulu," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada Medcom.id, Kamis, 8 April 2021. 

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id