KPK Semakin Yakin BIsa Buktikan Emirsyah Menerima Gratifikasi

    Candra Yuri Nuralam - 14 Februari 2020 04:36 WIB
    KPK Semakin Yakin BIsa Buktikan Emirsyah Menerima Gratifikasi
    Pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri. Foto: Medcom/Candra Yuri Nuralam
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semakin yakin bisa membuktikan penerimaan gratifikasi mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. KPK merujuk pernyataan saksi yang menyebut Emirsyah mewajarkan penerimaan gratifikasi.

    "Itu justru kemudian memperkuat pembuktian apa yang didakwakan dari jaksa penuntut umum," kata Pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 13 Februari 2020.

    Menurut Ali, keterangan saksi yang menirukan pernyataan Emirsyah menguntungkan jaksa lembaga antikorupsi. KPK semakin yakin dakwaan kepada Emirsyah bakal terbukti di meja hijau.

    "Artinya menjadi sangat jelas niat batin dari terdakwa Emirsah untuk kemudian menerima sejumlah uang ya dari pihak-pihak lain," ungkapnya.

    Bagi Ali, pemahaman Emirsyah soal pemberian dari pihak tertentu adalah keliru. Pejabat negara jelas-jelas dilarang menerima pemberian hadiah atau janji dalam bentuk apa pun. 

    "Saya kira memang perlu terus menerus disampaikan ini pemahaman tentang bahaya gratifikasi ini ke seluruh BUMN, dan lembaga pemerintahan, dan seluruh masyarakat seluruhnya," tutur Ali.

    Di dalam persidangan, Emirsyah Satar menilai gratifikasi hal wajar. Emirsyah juga menilai pelapor pelanggaran atau whistleblower membahayakan.

    "Karena kita dalam bisnis, kalau dalam bisnis itu hal yang biasa," kata Direktur Strategi Pengembangan Bisnis dan Manajemen Risiko PT Garuda Indonesia Persero, Achirina menirukan Emirsyah saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Februari 2020.

    KPK Semakin Yakin BIsa Buktikan Emirsyah Menerima Gratifikasi
    Eks Direktur Utama PT Garuda Indonesia Persero, Emirsyah Satar. Foto: MI/Susanto

    Achirina menyebut hal itu disampaikan Emirsyah saat pengimplementasian whistleblower dalam pengadaan pesawat. Achirina berusaha menciptakan PT Garuda Indonesia memiliki tata kelola perusahaan baik selaku BUMN.

    "Kalau ada orang yang menemukan, ada orang yang melakukan gratifikasi bisa ada media melaporkan," beber Achirina.

    Emirsyah didakwa menerima Rp46,3 miliar. Suap dari pihak Roll-Royce Plc, Airbus, Avions de Transport Regional melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa milik Soetikno Soedarjo, dan Bombardier Kanada. Suap diberikan karena Emirsyah memilih pesawat dari tiga pabrikan dan mesin pesawat dari Rolls Royce.
     
    Emirsyah didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.





    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id