comscore

Penghalang Proses Hukum Pelaku Pencabulan Santriwati di Jombang Bisa Dipidana

Siti Yona Hukmana - 07 Juli 2022 07:10 WIB
Penghalang Proses Hukum Pelaku Pencabulan Santriwati di Jombang Bisa Dipidana
Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti. MI/Susanto
Jakarta: Polisi kembali gagal menangkap MSAT, 42, putra kiai ternama di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terkait kasus dugaan pencabulan santriwati. Penghalang proses penegakan hukum terhadap anak KH Muhammad Mukhtar Mukthi itu disebut bisa dipidana.

"Jika ada pihak-pihak yang melindungi tersangka dan menghalang-halangi proses penegakkan hukum, mereka dapat dianggap melakukan obstruction of justice (tindak pidana menghalangi proses hukum) dan konsekuensinya dapat dikenai pasal tindak pidana menghalang-halangi keadilan," kata Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti kepada Medcom.id, Kamis, 7 Juli 2022.
Poengky menekankan semua orang sama kedudukannya di hadapan hukum. Sehingga, tidak boleh ada privilege (hak istimewa).

"Keadilan dan kepastian hukum bagi korban pelaku kekerasan seksual harus menjadi prioritas. Apalagi tersangka tidak punya iktikad baik untuk kooperatif dan menyerahkan diri. Jika alasannya tersangka menjadi korban fitnah, silakan dibuktikan di pengadilan," ungkap juru bicara Kompolnas itu.

Poengky mengakui penanganan kasus tersebut sangat lama. Hal itu, kata dia, terjadi karena tersangka tidak kooperatif walau sudah dua kali kalah praperadilan.

"Bahkan sekarang yang bersangkutan DPO (buron)," ujar Poengky.
 

Baca: Wakapolda Jatim Tegaskan Tangkap Tersangka Pencabulan Santriwati


Menurut Poengky, penyidik wajib menangkap dan menyerahkan tersangka beserta barang bukti ke jaksa penuntut umum (JPU). Sebab, berkas perkara telah dinyatakan P-21 alias lengkap.

"Lebih terhormat jika tersangka menyerahkan diri sebagai bentuk ketaatan warga negara terhadap hukum. Jangan membangun narasi yang bersangkutan sebagai korban fitnah atau mencoba membenturkan polisi dengan masyarakat," ucap dia.

Dia berharap masyarakat mendukung due process of law (proses hukum yang adil). Poengky menegaskan Indonesia adalah negara hukum. Tidak ada yang kebal hukum.

"Polisi mendapat dukungan dari publik untuk tegas menegakkan hukum terhadap tersangka," tutur dia.

MSAT merupakan warga asal Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pada Oktober 2019, MSAT dilaporkan korban ke Polres Jombang atas dugaan pencabulan terhadap perempuan di bawah umur asal Jawa Tengah dengan Nomor LP: LPB/392/X/RES/1.24/2019/JATIM/RESJBG. Korban merupakan salah satu santri atau anak didik MSAT di pesantren.

Selama disidik oleh Polres Jombang, MSAT tak pernah memenuhi panggilan penyidik. MSAT telah ditetapkan sebagai tersangka pada Desember 2019 dan ditetapkan sebagai DPO.

Kasus ini diambil alih Polda Jatim. Upaya jemput paksa sempat dihalang-halangi jemaah pesantren setempat. Termasuk upaya penjemputan paksa yang dilakukan Polres Jombang pada Minggu malam, 3 Juli 2022.

Setelah gagal menangkap tersangka MSAT, beredar video sang kiai menasihati Kapolres Jombang AKBP Nurhidayat. Video berdurasi 1.55 detik itu beredar luas di grup WhatsApp, terlihat sang kiai bersama Kapolres Jombang sedang berada di sebuah majelis. Kiai tengah duduk di kursi, sedangkan sang Kapolres duduk bersimpuh di lantai depan sang kiai.

Dalam video tersebut, sang kiai meminta Kapolres Jombang, tidak melanjutkan kasus hukum yang menimpa anaknya, MSAT. Alasannya, dugaan kasus pencabulan oleh MSAT terhadap sejumlah santriwati adalah fitnah.

"Untuk keselamatan kita bersama, untuk kejayaan Indonesia Raya, masalah fitnah ini masalah keluarga. Untuk itu, kembali lah ke tempat masing-masing, jangan memaksakan diri mengambil anak saya yang kena fitnah ini," kata sang kiai dalam video tersebut.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id