Ratna Sarumpaet Menangis Memohon Keadilan

    Ilham Pratama Putra - 18 Juni 2019 13:48 WIB
    Ratna Sarumpaet Menangis Memohon Keadilan
    Terdakwa kasus penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet/Medcom.id/Ilham Pratama
    Jakarta: Terdakwa penyebar berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet meminta keadilan pada majelis hakim. Ia bahkan meneteskan air mata saat membacakan nota pembelaan (pleidoi).

    "Majelis Hakim dapat menilai tentang kebenaran yang sebenar-benarnya kebenaran tentang berita yang dianggap sebagai kebohongan itu, sehingga dapat memutuskan perkara saya ini dengan seadil-adilnya," kata Ratna dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 18 Juni 2019.

    Baca: Ratna Sarumpaet Siapkan Pleidoi 108 Halaman

    Ratna tak menyangka kebohongannya berdampak hukum. Ia sampai-sampai ditahan. Aktivis itu menegaskan tak mengerti keonaran apa yang ia buat, seperti tuduhan jaksa penuntut umum (JPU).

    "Kebohongan yang saya lakukan sangat jauh dari menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan," ucap dia.

    Ratna menganggap persidangan sia-sia bila ia tak dibebaskan. Padahal, menurut Ratna, seluruh fakta persidangan meringankan dirinya.

    Ruang sidang hening ketika Ratna membacakan pleidoi. Hanya isak tangis Ratna sejak awal hingga akhir pembacaan pleidoi.

    Sebelumnya, JPU menyatakan Ratna Sarumpet terbukti bersalah atas kasus hoaks. Dia dituntut 6 tahun penjara.

    "Telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana menyebarkan berita bohong dengan sengaja. Menjatuhkan pidana terhadap Ratna Sarumpaet dengan pidana penjara selama enam tahun," kata koordinator JPU Daroe Tri Sadono dalam sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 28 Mei 2019.

    Baca: Dua Modal Ratna Sarumpaet di Sidang Pembelaan

    Daroe menyebut Ratna terbukti menyiarkan berita bohong tentang penganiayaan terhadap dirinya. Dia kemudian mengirim foto gambar wajah lebam dan bengkak kepada sejumlah orang.

    "Berita itu mendapat reaksi dari masyarakat dan berita bohong itu menyebabkan kegaduhan, keributan atau keonaran di masyarakat baik di media sosial, media elektronik, dan telah terjadi demonstrasi," jelas Daroe.

    Daroe menyebut tuntutan ini sudah berdasarkan fakta persidangan. Jaksa tak menemukan alasan untuk membebaskan Ratna.

    Hal yang memberatkan tuntutan Ratna ialah dia dikenal sebagai orang yang berintelektual, tetapi tidak berperilaku baik. Ratna juga kerap memberikan keterangan berbelit di persidangan.

    "Yang meringankan terdakwa, terdakwa sudah minta maaf," lanjut Daroe.

    Ratna dinilai terbukti bersalah melanggar Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946  tentang Peraturan Hukum Pidana. Dia dinilai telah menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dan dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat.



    (OJE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id