Irwandi Yusuf Dituntut 10 Tahun Penjara

    Damar Iradat - 25 Maret 2019 21:39 WIB
    Irwandi Yusuf Dituntut 10 Tahun Penjara
    Gubernur nonaktif Aceh Irwandi Yusuf - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
    Jakarta: Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf dituntut hukuman 10 tahun penjara. Ia juga dituntut membayar denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan.

    Jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ali Fikri meyakini, Irwandi telah terbukti secara sah dan meyakinkan telah menerima sejumlah uang suap dalam kasus suap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) Tahun 2018. Irwandi juga diyakini menerima sejumlah gratifikasi selama menjabat sebagai orang nomor satu di Aceh.

    "Menuntut, menyatakan terdakwa Irwandi Yusuf bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," kata jaksa Ali saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 25 Maret 2019.

    Jaksa meyakini, Irwandi menerima suap sejumlah Rp1 miliar dari Bupati Bener Meriah Ahmadi. Uang itu diberikan agar Irwandi menyetujui program pembangunan dari DOKA Tahun 2018.

    Ahmadi dan staf khusus Irwandi Hendri Yuzal kemudian sepakat soal komitmen fee atas program pembangunan itu. Ahmadi pun menyanggupi dan menyerahkan uang Rp1 miliar kepada Teuku Saiful Bahri dan Hendri Yuzal.

    Baca: Staf Irwandi Yusuf Minta Cabut BAP

    Jaksa melanjutkan, uang suap itu kemudian digunakan untuk membayar perjalanan umrah bersama istrinya, Steffy Burase. Uang itu juga digunakan untuk kegiatan Aceh Marathon yang digagas oleh Steffy.

    Selain perkara suap, Irwandi juga diyakini menerima gratifikasi sebesar Rp41,7 miliar selama menjabat Gubernur Aceh dari beberapa proyek yang dikerjakan pengusaha. Ia menjabat Gubernur Aceh dua kali, yakni pada periode 2007-2012 dan 2017-2022.

    Dalam pertimbangannya, jaksa menilai perbuatan Irwandi tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi, menciderai tatanan birokrasi yang bebas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), dan ia tidak menyesali perbuatannya. Di sisi lain, pertimbangan yang meringankan, Irwandi dianggap berperan penting dalam perdamaian di Aceh.

    Irwandi diyakini melanggar Pasal 12 huruf a dan Pasal 12 huruf B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

    Baca: Catatan Keuangan untuk Irwandi Yusuf Disamarkan

    Selain Irwandi, jaksa juga menuntut Hendri Yuzal selaku staf khusus Irwandi agar dihukum 5 tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan. Sementara itu, Teuku Saiful Bahri selaku tangan kanan Irwandi dituntut 6 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 6 bulan penjara.

    Jaksa meyakini keduanya berperan sebagai perantara suap untuk Irwandi. Menurut jaksa, Hendri Yuzal dan Saiful Bahri bersalah melanggar Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id