9 Pedemo Hari Pendidikan Nasional Jadi Tersangka

    Siti Yona Hukmana - 04 Mei 2021 16:40 WIB
    9 Pedemo Hari Pendidikan Nasional Jadi Tersangka
    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus. Medcom.id/Siti Yona Hukmana



    Jakarta: Sebanyak sembilan pedemo saat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di depan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek), Jakarta Pusat, ditetapkan sebagai tersangka. Kesembilan pedemo ditangkap saat aksi pada Senin sore, 3 Mei 2021.

    "Kami sudah tetapkan sebagai tersangka. Kesembilan orang dengan perannya masing-masing dan ini berproses. Negara kita negara hukum dan harus taat kepada hukum," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 4 Mei 2021.






    Yusri mengatakan kesembilan orang itu tidak mengindahkan peringatan aparat kepolisian saat demo. Padahal, kata dia, petugas telah memberikan tiga kali peringatan.

    "Peringatan itu terkait pelaksanaan demo dan penerapan protokol kesehatan," ujar Yusri.

    Namun, polisi telah memulangkan kesembilan tersangka. Mereka tidak ditahan karena ancaman hukumannya hanya empat bulan penjara.

    Kesembilan tersangka dijerat Pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Lalu, Pasal 216 KUHP dan Pasal 218 KUHP.

    Baca: Dorongan Mengubah Wajah Baru Pendidikan Nasional

    Yusri membantah tuduhan kesembilan pedemo tidak mendapatkan pendampingan hukum saat proses pemeriksaan. Menurut Yusri, kesembilan orang itu didampingi lembaga bantuan hukum (LBH) saat menjalani pemeriksaan, sebelum, dan setelah menjadi tersangka.

    "Jadi ini yang perlu kami juga ingatkan. Orang-orang yang tidak mengerti, mencari panggung, tidak mengerti kemudian terus berkoar-koar di media sosial," ujar Yusri.

    Kabar penetapan sembilan pedemo jadi tersangka itu pertama kali diungkap oleh Kepala Divisi Advokasi LBH Jakarta Nelson Nikodemus. Nelson menyebut kesembilannya telah dipulangkan walau menyandang status tersangka.

    Namun, Nelson menyebut polisi tak hanya melakukan penangkapan. Penangkapan disertai pemaksaan hingga penyitaan mobil komando milik Federasi Serikat Buruh Nusantara-Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (FSBN-KASBI).

    Bahkan, polisi juga disebut memaksa peserta demo menghapus video aksi Hardiknas. Petugas juga dituding mengancam akan membuntuti pedemo sampai pulang.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id