Polisi Baru Kabulkan Dua Laporan Kekerasan Jurnalis

    Theofilus Ifan Sucipto - 05 Oktober 2019 01:42 WIB
    Polisi Baru Kabulkan Dua Laporan Kekerasan Jurnalis
    Laporan LBH Pers dan AJI Jakarta di Mapolda Metro Jaya. Foto: Medcom.id/ Theofilus Ifan Sucipto.
    Jakarta: Polda Metro Jaya baru mengabulkan dua dari empat laporan jurnalis korban kekerasan demonstasi DPR. Kepolisian masih berkoordinasi untuk mengabulkan dua laporan jurnalis lainnya.

    "Untuk laporannya sampai detik ini yang diterima dua kasus. Reporter Kompas.com dan Katadata.co.id," kata Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Pers Ade Wahyudin di Mapolda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat 4 Oktober 2019.

    Ade merinci reporter Kompas.com atas nama Nibras Nada Naulifar alias Ajeng dan reporter Katadata.co.id atas nama Tri Kurnia Yunianto. Keduanya melaporkan kasus yang berbeda.

    Dalam pelaporan Ajeng, kasus yang dilaporkan adalah penghalang-halangan aktivitas jurnalistik. Hal itu melanggar Pasal 8 ayat 1 Undang-Undang Pers yang mengatakan ada tindak pidana bagi yang menghalang-halangi kerja jurnalistik.

    Laporan itu teregistrasi dengan nomor laporan LP/6372/X/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus. Pasal yang disangkakan adalah melanggar Pasal 8 ayat 1 Undang-Undang Pers.

    Sedangkan untuk pelaporan Tri, kasus yang dilaporkan adalah penganiayaan oleh oknum yang sedang berjaga pada Selasa, 24 September 2019. Kala itu, Tri yang berada di gedung DPR dihampiri oknum petugas dan dianiaya.

    Laporan itu teregistasi dengan nomor laporan LP/6371/X/2019/PMJ/Dit. Reskrimum. Pasal yang disangkakan adalah Pasa 352 KUHP tentang penganiayaan.

    Sementara itu, upaya laporan jurnalis Vani Fitria dari Narasi.tv dan Haris Prabowo dari Tirto.id belum diterbitkan. Kepolisian masih berkoordinasi.

    "Karena (kepolisian) lagi koordinasi. Kita sampai di sini jam sembilan pagi dan mulai konseling sekitar setengah 10 dan sore ini jam tujuh kita hanya dapat dua laporan," tutur Ade.

    Kendati begitu, dirinya optimistis kedua laporan tersebut bakal ditindaklanjuti. Ade berharap kepolisian membantu menemukan pelanggar hukum.

    Sementara itu Ketua Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta Erick Tanjung menegaskan akan mengawal proses ini. Pasalnya, kata dia, sejauh ini belum ada laporan dari AJI Jakarta ke kepolisian yang ditindaklanjuti hingga pengadilan.

    "Ini harus jadi preseden kasus ini didorong ke pengadilan," ucap Erick.

    Sebelumnya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mendampingi empat jurnalis ke Polda Metro Jaya. Mereka melaporkan kekerasan yang dialami jurnalis saat meliput demonstrasi di DPR periode 24 sampai 30 September 2019.

    "Kami mendesak kepolisian mengungkap para pelaku kekerasan yang menghalang-halangi kerja-kerja jurnalistik," kata Ketua Divisi Advokasi AJI Jakarta Erick Tanjung.

    Erick menyebut tindak kekerasan tidak hanya menimpa massa aksi yang berdemonstrasi menuntut pencabutan beberapa Rancangan Undang-undang yang dianggap bermasalah. Beberapa jurnalis turut terkena imbasnya, kendati mengenakan tanda pengenal yang jelas sebagai seorang pewarta. 

    (EKO)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id