Polisi Dalami Kasus Pemerasan di Menteng

    Siti Yona Hukmana - 25 Juni 2019 13:10 WIB
    Polisi Dalami Kasus Pemerasan di Menteng
    Ilustrasi airsoft gun. ANT/M Iqbal.
    Jakarta: Polsek Metro Menteng mendalami kasus pemerasan bermodal airsoft gun di Menteng, Jakarta Pusat. Polisi ingin memastikan kebenaran aksi itu baru pertama kali dilakukan pelaku.

    Kanit Reskrim Polsek Metro Menteng Kompol Gozali Luhulima mengatakan dua pelaku pemerasan Maulana Ja'far, 20, dan Maulana Alfi Yasin, 23, mengaku baru pertama kali melakukan pemerasan. Polisi tak langsung mempercayai mereka.

    "Sekarang kita masih pendalaman. Kadang-kadang korban ada yang tidak buat laporan. Jadi kita tidak tahu jika pernah terjadi kejadian serupa. Kita juga masih koordinasi dengan polsek lain apakah ada kejadian serupa," kata Gozali saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019. 

    Gozali menyebut airsoft gun yang ditodongkan Ja'far kepada korban merupakan senjata ilegal. Ja'far tak memiliki surat izin kepemilikan senjata tersebut.

    Baca: Polisi Ringkus Dua Pemeras Bermodal Airsoft Gun

    "Harusnya ada surat. Tapi mereka tidak punya surat-suratnya. Mereka mengaku dapat dari saudaranya. Tapi, identitas saudaranya masih kita rahasiakan. Soalnya masih kita kejar," terang Gozali. 

    Polisi juga menyita satu butir peluru dari dua pelaku pemerasan itu. Peluru jenis gotri tersebut disebut siap dimentahkan dari senjata.

    Sebelumnya, terjadi pemerasan di pinggir rel kereta api Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 22 Juni 2019, sekitar pukul 02.00 WIB.  Ja'far dan Alfi berhasil ditangkap saat mengaku sebagai polisi. Mereka diringkus tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

    Saat meringkus pelaku, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, satu buah airsoft gun jenis pistol merek Pietro Beretta Gardone VT buatan Italia, satu buah magasin dengan peluru gotri besi/kuningan, dan satu buah tas hitam.  

    Kedua pelaku dan barang bukti dibawa ke Polsek Metro Menteng guna penyidikan lebih lanjut. Mereka dikenakan Pasal 368 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pemerasan dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara.



    (DRI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id