KPK Bantah Penetapan Tersangka Anggota BPK Bermotif Dendam

    Juven Martua Sitompul - 26 September 2019 00:12 WIB
    KPK Bantah Penetapan Tersangka Anggota BPK Bermotif Dendam
    Wakil Ketua KPK Saut Situmorang membantah penetapan anggota BPK Rizal Djalil sebagai tersangka bermotif dendam. Foto: MI/Rommu Pujianto.
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantah penetapan tersangka Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rizal Djalil bermotif dendam. Penetapan Rizal murni penegakan hukum.

    "Sejak kapan kita diajarin dendam-dendaman. Kasusnya saja kan jauh, kasusnya kan tahun kemarin kan berapa lama. Jadi enggak lah (dendam)," tukas Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 25 September 2019.

    KPK mendapat predikat Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dalam pengelolaan uang dari BPK. Menurut Saut, predikat WDP diberikan lantaran KPK tidak memerinci keberadaan barang sitaan, barang bukti, hingga barang yang sudah dilelang.

    "Itu dijadikan satu. Jadi bagaimana kita bisa alokasikan itu mana disita mana yang sudah dilelang, mana kemudian bukti-buktinya atau barang-barang itu berada di mana," ungkap Saut.

    KPK menetapkan Rizal Djalil dan Leonardo sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Penetapan kedua tersangka ini merupakan hasil pengembangan.

    Ihwal suap ini terjadi saat Direktur SPAM mendapatkan pesan adanya permintaan uang terkait pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK-RI sebesar Rp2,3 miliar. Rizal bahkan menginformasikan bakal ada satu pihak yang mewakilinya untuk bertemu Direktur SPAM.

    Perwakilan Rizal selanjutnya datang dan menyampaikan ingin ikut serta dalam pelaksanaan/kegiatan proyek di lingkungan Direktorat SPAM. Proyek yang diminati adalah proyek SPAM Jaringan Distribusi Utama (JDU) Hongaria dengan pagu anggaran Rp79,27 miliar.

    Permintaan itu disanggupi, proyek SPAM Hongaria dikerjakan oleh PT Minarta Dutahutama. Timbal balik dari proyek itu, Leonardo melalui perantara menyampaikan akan menyerahkan uang Rp1,3 miliar dalam bentuk Dolar Singapura untuk Rizal.

    Uang tersebut, akhirnya diserahkan kepada Rizal melalui salah satu pihak keluarga sebanyak SGD100.000 dalam pecahan SGD1.000 di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

    Rizal sebagai pihak penerima disangkakan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

    Leonardo sebagai pihak pemberi disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    (HUS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id