Firli Ungkap Perkembangan Penyidikan Kasus Korupsi Bansos

    Candra Yuri Nuralam - 15 Februari 2021 14:36 WIB
    Firli Ungkap Perkembangan Penyidikan Kasus Korupsi Bansos
    Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri. MI/Susanto



    Jakarta: Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri membeberkan kelanjutan proses penyidikan kasus dugaan suap pengadaan bantuan sosial (bansos) Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) di Kementerian Sosial pada 2020. Penyidik masih sibuk mengumpulkan bukti.

    "KPK sedang melakukan kegiatan pengumpulan barang bukti dan keterangan saksi untuk mengungkap terangnya perkara," kata Firli melalui keterangan tertulis, Senin, 15 Februari 2021.






    Firli memastikan pihaknya akan terus memanggil saksi sampai berkas kasus dinyatakan rampung. Dia berharap setiap saksi yang dipanggil bisa menyambungkan teka-teki rasuah yang menyeret mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara itu.

    "Guna menemukan tersangkanya," ujar Firli.

    Dia meminta masyarakat bersabar. Lembaga Antikorupsi berjanji membuka seluruh hasil penyidikan dalam persidangan.

    "Pada saatnya nanti pasti KPK akan menyampaikannya ke publik. Berikan waktu kami untuk bekerja," tutur Firli.

    (Baca: KPK Diminta Tak Segan Panggil Politikus Terkait Korupsi Bansos)

    Sebelumnya, Juliari Peter Batubara ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan bansos sembako covid-19 di Jabodetabek pada 2020. Kasus ini menjerat empat tersangka lain, yakni dua pejabat pembuat komitmen (PPK) Kemensos Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso, serta pihak swasta Ardian IM dan Harry Sidabuke.

    KPK menduga kongkalikong para tersangka membuat Juliari menerima Rp17 miliar dari dua periode pengadaan bansos sembako. Kasus ini terungkap bermula dari penangkapan Matheus. KPK mengendus adanya pemberian uang dari para tersangka dan sejumlah pihak, salah satunya kepada Juliari.

    Penyerahan uang dilakukan pada Sabtu dini hari, 5 Desember 2020. Fulus Rp14,5 miliar dari Ardian dan Harry itu disimpan dalam tujuh koper, tiga tas ransel, dan amplop kecil.

    Juliari dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

    Matheus dan Adi dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 huruf (i) UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

    Sementara itu, Ardian dan Harry dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id