Jejak Maria Pauline Lumowa Pembobol BNI Rp1,7 Triliun

    Fachri Audhia Hafiez - 09 Juli 2020 13:54 WIB
    Jejak Maria Pauline Lumowa Pembobol BNI Rp1,7 Triliun
    Tersangka kasus pembobolan BNI, Maria Pauline Lumowa, berhasil diekstradisi dari Serbia ke pemerintah Indonesia setelah 17 tahun buron. ANT Aditya Pradana Putra
    Jakarta: Berakhir sudah perjalanan buron 17 tahun Maria Pauline Lumowa. Pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat letter of credit (L/C) fiktif itu ditangkap Kantor Pusat Nasional (NCB) Interpol Serbia pada 16 Juli 2019 di Bandara Internasional Nikola Tesla, Beograd, Serbia.

    Maria atau yang kerap dipanggil Erry ini akan mempertanggungjawabkan kejahatannya di hadapan hukum. Medcom.id telah merangkum sejumlah fakta terkait Maria.
     

    Berawal dari peminjaman L/C Rp1,7 triliun

    Kasus ini bermula ketika PT Gramarindo Group milik Maria mengajukan pinjaman uang berupa jaminan L/C kepada Bank BNI cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai US$136 juta dan EUR56 juta atau sama dengan Rp1,7 Triliun (dengan kurs saat itu) pada periode Oktober 2002-Juli 2003.

    Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958, itu melakukan peminjaman bersama Konsultan Investasi PT Sagared Team Adrian Herling Waworuntu. Adrian telah divonis seumur hidup dalam kasus ini.

    Modus peminjaman itu dengan kedua pihak memegang slip L/C yang diajukan ke BNI. Namun, pencairan L/C tersebut tidak sesuai prosedur yang berlaku di BNI.
     

    Melibatkan orang dalam

    Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly menyebut mulusnya pencairan L/C tidak sesuai prosedur. Diduga kuat ada keterlibatan orang dalam.

    "Karena BNI tetap memberikan jaminan letter of credit (L/C)," kata Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly dalam keterangan pers, Kamis, 9 Juli 2020.

    BNI mulai mengendus ada yang tidak beres dalam pencairan itu. Sejumlah bank yang menjadi jaminan L/C tercatat bukan korespondensi BNI.

    Bank tersebut di antaranya Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp.

    Pihak BNI curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group dan mulai melakukan penyelidikan pada Juni 2003. Perusahaan itu rupanya tak pernah melakukan ekspor.
     

    Pembobolan melibatkan banyak orang

    Maria melakukan aksinya tidak hanya bersama Adrian Herling Waworuntu. Terdapat sejumlah nama dalam pembobolan BNI senilai Rp1,7 triliun itu dan telah diproses hukum.

    Mereka yakni, Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Magnetik Usaha Indonesia Adrian Pandelaki Lumowa (divonis 15 tahun penjara); Mantan Dirut PT Triranu Caraka Pasifik Jeffrey Baso (divonis 7 tahun penjara); dan Mantan Direktur PT Gramarindo Mega Indonesia Olah Abdullah Agam (divonis 15 tahun penjara).

    Kemudian Mantan Dirut PT Bhinnekatama Titik Pristiwati (divonis 8 tahun penjara); Mantan Kabareskrim Polri Komjen Suyitno Landung (divonis 1 tahun 6 bulan); Mantan Dirut PT Metranta Richard Kuontul (divonis 8 tahun penjara) dan Mantan Dirut PT Pantipros Aprillah Widhata (divonis 15 tahun penjara).

    Sejumlah pihak BNI yang terlibat yakni, mantan Kepala Divisi Internasional BNI Wayan Saputra (divonis 5 tahun penjara) dan Quality Assurance Divisi Kepatuhan Bank BNI Kantor Besar Aan Suryana (divonis 5 tahun penjara). Kemudian Mantan Kepala Customer Service Luar Negeri BNI Kebayoran Edy Santoso (vonis seumur hidup).
     

    Kabur sebelum ditetapkan tersangka

    Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Polri. Maria kemudian dinyatakan sebagai tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat L/C fiktif pada Oktober 2003.

    Ia melarikan diri ke Singapura pada September 2003 atau satu bulan sebelum Polri mengeluarkan penetapan tersangka. Selang 6 tahun, keberadaan Maria terendus di Belanda. Menurut Kemenkumham, Maria beberapa bolak-balik Belanda-Singapura.
     

    Warga negara Belanda sejak 1979

    Kemenkumham menyebut Maria berstatus warga negara Belanda sejak 1979. Hal itu menyulitkan Pemerintah Indonesia memboyong Maria kembali ke tanah air untuk diproses hukum.

    Pasalnya, Indonesia dan Belanda tidak memiliki perjanjian bilateral di bidang ekstradisi. Bahkan, Pemerintah Kerajaan Belanda memberikan opsi agar Maria diadili di Belanda.

    Pemerintah Indonesia sempat dua kali mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda pada 2010 dan 2014. Namun, otoritas Belanda menolak.
     

    Akhir perjalanan Maria

    Upaya penegakan hukum memasuki babak baru saat Maria ditangkap oleh NCB Interpol Serbia pada 16 Juli 2019 di Bandara Internasional Nikola Tesla, Beograd, Serbia.

    Pemerintah Indonesia menerbitkan surat permintaan penahanan sementara. Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham mengajukan permohonan ekstradisi ke otoritas Serbia.

    "Dengan selesainya proses ekstradisi ini, berarti berakhir pula perjalanan panjang 17 tahun upaya pengejaran terhadap buronan bernama Maria," ucap Yasonna.

    Maria akan menghadapi proses hukum atas dugaan melakukan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana maksimal seumur hidup.

    (REN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id