Program Asimilasi Napi di Tengah Pendemi Korona Dinilai Tepat

    Fachri Audhia Hafiez - 06 Mei 2020 17:55 WIB
    Program Asimilasi Napi di Tengah Pendemi Korona Dinilai Tepat
    Napi sujud syukur setelah dibebaskan dari Lapas Kelas I Tanjung Gusta, Medan. ANT/Septianda Perdana
    Jakarta: Anggota Komisi III DPR, Arteria Dahlan, menilai program asimilasi dan integrasi warga binaan di tengah pandemi virus korona (covid-19) sebuah kecermatan. Program Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenhukham) itu dinilai tepat.

    "Saya sangat sependapat dan respons cepat, kerja cerdas, hebat cermat Pak Menkumham Yasonna Laoly. Harus kita apresiasi," kata Arteria dalam diskusi virtual OPini 'Obrolan Peneliti' bertajuk 'Pandemi Covid-19 dan Asimilasi Narapidana', Rabu, 6 Mei 2020.

    Arteria mengatakan di dalam lembaga permasyarakatan (lapas) atau rumah tahanan (rutan) tidak memungkinkan menerapkan physical distancing sebagai upaya penularan virus korona. Di sisi lain, kapasitas lapas maupun rutan sudah terlalu padat.

    "Ini akan ada yang terpapar, dengan begitu mudahnya cepat tertular. Bisa sakit, meninggal dunia bisa dibayangkan itu," ujar Arteria.

    (Baca: Target 2020, Kemenkumham Bakal Bebaskan 69 Ribu Napi)

    Asimilasi dan integrasi dinilai instrumen pembinaan bagi narapidana. Selain itu, program tersebut berhak didapatkan oleh warga binaan pemasyarakatan. Sekaligus, mengurangi dampak kelebihan kapasitas dari lapas dan rutan.

    Dia juga meminta Kemenkumham giat menyosialisasikan program pemulangan napi tersebut. Sehingga, tidak ada kesalahpahaman yang terjadi di ruang publik.

    "Juga terkait dengan apakah ini menjadi penghalang atau menjadi ruang bagi transaksi pihak-pihak tertentu, saya katakan waduh mohon bukti deh," ujar Arteria.

    Program pembebasan napi diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 10 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi bagi Narapidana dan Anak dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid -19. Alasan memberikan asimilasi dan integrasi pada warga binaan tertentu itu adalah untuk menyelamatkan mereka dari ancaman menyebarnya covid-19.

    Sebanyak 39 ribu warga binaan telah dikeluarkan dari rutan dan lapas. Namun di sejumlah daerah, warga binaan membuat resah masyarakat dengan mengulangi aksi kejahatannya.

    (REN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id