Persidangan Novel Dikondisikan untuk Ungkap Pelaku Lapangan

    Fachri Audhia Hafiez - 19 Mei 2020 02:52 WIB
    Persidangan Novel Dikondisikan untuk Ungkap Pelaku Lapangan
    Sidang penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
    Jakarta: Kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan diyakini sudah dikondisikan hanya untuk mengungkap pelaku lapangan. Pihak dibalik penyerangan belum dapat terungkap bahkan saat di peradilan.

    "Enggak kaget akan seperti ini. Karena sudah sejak awal dikondisikan hanya mengungkap pelaku lapangan, mengungkap hal-hal yang terkait saat peristiwa," kata Koordinator KontraS sekaligus anggota tim advokasi Novel, Yati Andriyani, dalam diskusi virtual, Senin, 18 Mei 2020.

    Yati mengatakan, terdapat konflik kepentingan dalam kasus penyerangan Novel yang terjadi pada Selasa, 11 April 2017. Ia meyakini ada pihak yang berusaha menghalangi pengungkapan kasus.

    Hal ini dibuktikan dengan perjalanan kasus yang terbilang lambat sejak awal penyelidikan. Yati mengungkapkan, rupanya saat persidangan ditemukan pula kejanggalan dan ketidakpatutan.

    "Adanya invisible hand, yang menghalang-halangi pengungkapan kasus ini sangat jelas dampaknya hari ini dalam proses persidangan pun kita tidak bisa berharap banyak," ujar Yati.

    Selain itu, jaksa penuntut umum dinilai tidak mau mengungkap aktor intelektual bahkan mendakwa pelaku dengan ringan, dan diarahkan sebagai motif dendam pribadi. Jaksa juga disebut tidak menjadi representasi negara yang mewakili kepentingan korban, dalam hal ini Novel.

    "Kita justru cenderung melihat jaksa penuntut umum mewakili kepentingan terdakwa, dilihat dari dakwaan ringan, ada arah pertanyaan atau konstruksi dakwaan air yang digunakan untuk menyiram adalah air aki (bukan air keras)," ujar Yati.

    Majelis hakim yang mengadili terdakwa juga dipandang pasif. Menurut Yati, hakim tidak menyeluruh menggali pra atau pasca peristiwa.

    "Praperistiwa ini adalah sekuel sangat penting untuk membuktikan bahwa kejahatan ini dilakukan secara sistematis dan terorganisir," ujar Yati.

    Novel diserang Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette pada Selasa, 11 April 2017. Kedua penyerang didakwa melakukan penganiyaan berat kepada Novel secara bersama-sama dan direncanakan. Perbuatan itu berupa menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4) ke badan dan muka Novel.

    Perbuatan Ronny dan Rahmat membuat Novel mengalami luka berat. Novel mengalami penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.

    Ronny dan Rahmat didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) atau 353 ayat (2) atau 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id