Dua Orang Jadi Tersangka Dugaan Perbudakan ABK

    Siti Yona Hukmana - 19 Mei 2020 13:33 WIB
    Dua Orang Jadi Tersangka Dugaan Perbudakan ABK
    Ilustrasi perdagangan orang. Medcom.id
    Jakarta: Polda Jawa Tengah menetapkan dua tersangka terkait kasus dugaan perbudakan anak buah kapal (ABK) Indonesia di Kapal Luqing Yuan Yu 623. Keduanya merupakan direktur dari perusahaan yang memberangkatkan pekerja migran Indonesia (PMI) itu.

    "Satu tersangka atas nama Mohamad Hoji, tersangka satu lagi atas nama Sustriyono," kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Iskandar Fitriana Sutisna dalam keterangannya, Selasa, 19 Mei 2020.

    Polisi turut menyita berbagai dokumen, seperti surat pengembalian dokumen dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, buku pendaftaran, rekapitulasi pendaftaran, kontrak kerja, slip gaji, satu unit CPU, Nomor Induk Berusaha (NIB), dan akta pendirian PT Mandiri Tunggal Bahari (MTB).

    Kemudian, Surat Izin Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (SIP3MI) dengan Nomor Induk Berusaha 8120012221163, perjanjian kerja sama untuk ABK kapal ikan tertanggal 8 April 2019, serta perjanjian kerja sama pelayanan kesehatan PT RAHB Corporindo Nusantara Klinik Utama Hasela Tegal dengan PT MTB tanggal 15 Juli 2019.

    (Baca: Dugaan Penganiayaan ABK WNI di Kapal Tiongkok Kembali Terjadi)

    Polisi juga menyita surat Nota Kesepakatan Nomor 002/NK/BDM-SJMTC/I/2020 tentang pendidikan dan latihan keterampilan kepelautan antara PT Seaman Jaya Raya dengan PT MTB tanggal 15 Januari 2020.

    Kedua tersangka dijerat Pasal 85 dan atau Pasal 86 huruf c Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2017 tentang PMI dan atau Pasal 4 Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Perdagangan Orang.

    Dugaan perbudakan ABK WNI bermula dari laporan National Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia. Dalam laporannya, DFW menyebut ada ABK bernama Herdianto yang diduga tewas setelah disiksa. Jenazahnya kemudian dilarung di laut Somalia.

    "Sebelum meninggal, Herdianto terindikasi mengalami penganiayaan berupa tindakan kekerasan fisik (pukulan dan tendangan dengan menggunakan pipa besi, botol kaca, dan setrum)," kata M Abdi Suhufan dari National Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Minggu, 17 Mei 2020.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id