Tersangka Kasus Mafia Tanah Senilai Rp180 Miliar Diburu

    Siti Yona Hukmana - 03 Maret 2021 17:07 WIB
    Tersangka Kasus Mafia Tanah Senilai Rp180 Miliar Diburu
    Ilustrasi/Medcom.id



    Jakarta: Kasus dugaan mafia tanah senilai Rp180 miliar yang dilaporkan seorang perempuan, Dian Rahmiani naik penyidikan. Polisi mulai memburu tersangka dalam sindikat mafia tanah itu. 

    "Sudah naik sidik (penyidikan), sudah diduga ada pidana, makanya naik sidik untuk penentuan tersangkanya," kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 3 Maret 2021. 






    Tubagus mengatakan pihaknya menerima laporan dugaan mafia tanah itu dari Dian Rahmiani pada Kamis, 21 Januari 2021. Laporan polisi (LP) terdaftar dengan nomor: LP/366/I/YAN.2.5/2022/SPKT PMJ. Kasus itu ditangani oleh Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya. 

    "Saat ini masih dalam rangka pemenuhan alat bukti untuk penetapan tersangka," ujar Tubagus.

    Dia tidak memerinci kasus mafia tanah yang menimpa pelapor Dian. Tubagus menyebut rata-rata modus sindikat mafia tanah itu serupa. 

    Baca: Kementerian ATR/BPN Akan Gelar Praoperasi Kasus Mafia Tanah

    "Pada dasarnya setiap kasus itu ada kemiripan, tapi enggak semua mirip. Sifatnya punya karakter yang berbeda-beda," ungkap Tubagus. 

    Sementara itu, dia belum dapat memastikan jumlah kerugiannya. Tubagus baru bisa memastikan ada dugaan tindak pidana pemalsuan yang dilakukan sindikat mafia tanah terhadap sertifikat hak milik (SHM) korban atau pelapor.

    "Memang diduga ada yang dipalsukan atau ada kewajiban yang tidak dilakukan. Apakah itu bisa jadi pidana atau tidak ini sekarang lagi dikumpulkan alat bukti untuk menentukan siapa tersangkanya," jelas Tubagus. 

    Dian menjadi korban mafia tanah di Jakarta pada Januari 2017. Mulanya, Dian mengiklankan penjualan tanah di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat seharga Rp180 miliar. 

    Kemudian Dian didatangi dua orang berinisial HN dan GS. Keduanya mengaku berniat membeli tanah dengan proses dua kali cicilan. 

    Dian sepakat menjual tanah warisannya pada 8 Maret 2017. Dian diajak ke notaris berinisial CMS untuk menandatangani tiga akta formalitas. Saat itu, hadir tangan kanan HN, yaitu YK dan MAR.

    Saat itu, MAR menyerahkan uang tunai dan cek Bank BCA sebesar Rp171 miliar sebagai pelunasan pembelian tanah tersebut. Namun, pada 22 Agustus 2017 Dian menerima somasi dari MAR yang mengaku sebagai pemilik tanah. 

    Dian kaget setelah melihat sertifikat tanahnya itu sudah berganti nama. Padahal, dia belum mengganti nama karena masih dalam proses administrasi. 

    Apesnya, cek Bank BCA yang diberikan sebagai pembayaran tanah itu ternyata fiktif alias cek kosong. Setelah melakukan berbagai upaya, Dian melaporkan kasus itu ke Polda Metro Jaya. Teranyar, diketahui HN dan GS telah menjadi terpidana mafia tanah. 

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id