MAKI Apresiasi Jaksa Agung Tuntut Mati Terdakwa ASABRI

    Al Abrar - 07 Desember 2021 15:25 WIB
    MAKI Apresiasi Jaksa Agung Tuntut Mati Terdakwa ASABRI
    Sidang pembacaan tuntutan terdakwa Heru Hidayat. Medcom.id/Candra Yuri Nuralam



    Jakarta: Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mengapresiasi tuntutan hukuman mati terhadap terdakwa kasus korupsi ASABRI, Heru Hidayat oleh kejaksaan. Langkah itu kata Boyamin menjadi solusi pemberantasan korupsi yang lebih baik.

    Boyamin menilai, Jaksa layak mengganjar Heru dengan hukuman mati. Apalagi, dia juga terjerat kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya. Heru divonis penjara seumur hidup dalam kasus yang merugikan negara Rp16,80 triliun itu.

     



    Pengulangan tindak korupsi itu membuat jaksa tidak bisa memberikan ampunan untuk Heru. Tindakan Heru juga dinilai masuk dalam kategori kejahatan luar biasa.

    "Saya mengapresiasi atas tuntutan hukuman mati oleh kejaksaan. Sebab saat ini korupsi kita semakin merajalela," kata Boyamin.

    Baca: Dituntut Hukuman Mati, Jaksa Tak Temukan Keringanan untuk Heru Hidayat

    Menurut Boyamin, kasus tuntutan hukuman mati pernah dilakukan terhadap terdakwa kasus korupsi Dicky Iskandar Dinata. Dicky membobol kas Bank Duta sebesar Rp811 miliar dan dihukum 8 tahun penjara pada 26 Mei 1992.

    Setelah keluar penjara, Dicky kembali mengulangi perbuatannya. Ia membobol BNI sebesar Rp1,3 triliun pada 2005. Jaksa kemudian menuntutnya penjara seumur hidup, tapi hakim memvonisnya 20 tahun penjara.

    "Heru ini meski tidak pengulangan tapi secara bersama korupsi yang dianggap besar, di Jiwasraya dan ASABRI," kata Boyamin.

    Menurut Boyamin, langkah tuntutan hukuman mati terhadap Heru merupakan terobosan dan perluasan makna dari pengulangan tindak korupsi. Sebab kata Boyamin, Heru sudah divonis seumur hidup pada kasus Jiwasraya.

    Menurut Boyamin, pengulangan korupsi adalah perluasan makna. pengulangan itu tidak hanya masuk penjara kemudian dia mengulang lagi. Tapi juga melakukan korupsi berkali-kali seperti kasus Heru yang mengutip duit Jiwasraya dan ASABRI.

    "Nah hukuman mati terhadap koruptor ini diperluas maknanya oleh kejaksaan, dan ini boleh.
    Hakim mestinya lebih berani, karana sudah ada terobosan dari kejaksaan," kata Boyamin.

    Dia berharap, hakim mengamini tuntutan jaksa terhadap Heru Hidayat. Sebab selama ini, sanksi terhadap terpidana kasus korupsi terlalu ringan.

    "Karena selama ini hukuman korupsi ringan. ditambah lagi, remisi, asimilasi, bebas bersyarat dan lain-lain," kata Boyamin.

    Sebelumnya, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat, dituntut hukuman mati dalam kasus korupsi di PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI). Jaksa penuntut umum (JPU) pada Kejaksaan Agung tak menemukan alasan untuk meringankan hukuman Heru.
     
    "Meski dalam persidangan ada hal-hal yang meringankan dalam diri terdakwa, namun hal-hal tersebut tidak sebanding dengan kerugian negara yang ditimbulkan akibat dari perbuatan terdakwa. Oleh karena itu hal-hal tersebut patutlah dikesampingkan," kata JPU pada Kejaksaan Agung di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin, 6 Desember 2021.
     
    Jaksa menilai hukuman mati pantas untuk Heru. Apalagi, dia juga terjerat kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya. Heru divonis penjara sumur hidup dalam kasus yang merugikan negara Rp16,80 triliun itu.

    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id