comscore

Bupati Langkat Sempat Kabur Saat OTT

Candra Yuri Nuralam - 20 Januari 2022 04:17 WIB
Bupati Langkat Sempat Kabur Saat OTT
Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin tiba di Gedung KPK, Rabu malam, 19 Januari 2022. Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
Jakarta: Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron mengungkapkan Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin menghindar dari kejaran penyidik. Dia sempat kabur saat operasi tangkap tangan (OTT).

"Diduga sengaja menghindar dari kejaran tim KPK," kata Nurul di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 20 Januari 2022.
Ghufron mengungkapkan penangkapan Terbit bermula dari informasi masyarakat terkait adanya pemberian sejumlah uang oleh pihak swasta Muara Perangin Angin ke penyelenggara negara. KPK segera mengirim tim untuk menindaklanjuti laporan tersebut.

KPK juga mengikuti pergerakan Muara saat mengambil uang di Bank. Muara sudah ditunggu tiga kontraktor, yakni Marcos Surya Abdi, Shuhanda Citra, dan Isfi Syahfitra di sebuah kedai kopi.

Ketiganya merupakan perpanjangan tangan Terbit dan Kepala Desa Balai Kasih Iskandar. Setibanya di kedai kopi, Muara langsung memberikan uang itu ke Marcos, Shuhanda, dan Isfi.

KPK langsung menangkap dan membawa keempatnya ke Polres Binjai. Kemudian, KPK menuju kediaman pribadi Terbit.

"Namun, saat rumah didatangi TRP dan ISK tidak ada. KPK menduga tangkap tangan ini sudah diketahui kedua orang tersebut," tutur Ghufron.

Tim KPK langsung melakukan pencarian. Tak lama, KPK mendapatkan informasi keduanya menyerahkan diri ke Polres Binjai.

"Dan dilakukan permintaan keterangan terhadap yang bersangkutan," tutur Ghufron.

KPK menemukan uang Rp786 juta dalam operasi senyap itu. Uang diyakini hanya sebagian kecil dari keseluruhan yang sudah diterima Terbit.

KPK menetapkan enam tersangka dalam operasi senyap di Langkat. Keenamnya ditetapkan sebagai tersangka suap pengadaan barang dan jasa di Langkat pada 2020-2022.

Mereka yakni Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin, pihak swasta Muara Perangin Angin, Kepala Desa Balai Kasih Iskandar, kontraktor Marcos Surya Abdi, Kontraktor Shuhanda, Kontraktor Isfi Syahfitra.

Muara dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara itu, Terbit, Iskandar, Marcos, Shuhanda, dan Isfi disangkakan melanggar Pasal 12 huruf (a) atau Pasal 12 huruf (b) atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Baca: Terjaring OTT, Bupati Langkat Tiba di Gedung Merah Putih KPK
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id