KPK Panggil Ulang Legislator Demokrat Muhamad Nasir

    Juven Martua Sitompul - 01 Juli 2019 10:41 WIB
    KPK Panggil Ulang Legislator Demokrat Muhamad Nasir
    Lambang KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi memanggil ulang anggota Komisi VII DPR Muhamad Nasir. Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk kasus suap dan gratifikasi yang menjerat koleganya, anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso.

    Keterangan politikus Partai Demokrat itu dibutuhkan untuk melengkapi berkas penyidikan pejabat PT Inersia, Indung. PT Inersia adalah perusahaan milik Bowo Sidik.

    "Muhamad Nasir akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IND," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Senin, 1 Juli 2019.

    Nasir sebelumnya dipanggil penyidik pada Senin, 24 Juni 2019. Namun, dia mangkir tanpa memberi keterangan kepada penyidik.

    Penyidik juga memanggil empat saksi lain. Mereka adalah staf Nasir di parlemen, Rati Pitria Ningsi, serta tiga karyawan swasta bernama Kelik Tuhu Priambo, Tajudin, dan Novi Novalina.

    "Keempatnya akan diperiksa untuk tersangka yang sama," ujar Febri.

    Belum diketahui detail kaitan Nasir dalam kasus ini. Namun, ruang kerja Nasir pernah digeledah penyidik pada 4 Mei 2019. Penggeledahan dilakukan karena Bowo Sidik diduga menerima gratifikasi terkait pengurusan dana alokasi khusus (DAK).

    Bowo Sidik bersama Indung dan Marketing manager Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asty Winasti, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerja sama jasa penyewaan kapal antara PT Pilog dengan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima, sedangkan Asty pemberi suap.

    Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya jasa angkut tersebut. Total fee yang diterima Bowo USD2 per metrik ton. Pemberian fee sudah terjadi enam kali di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel, dan kantor PT HTK senilai Rp221 juta dan USD85.130.

    Baca: Legislator Demokrat M Nasir Mangkir Pemeriksaan KPK

    Dari Bowo, penyidik menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang Rp8 miliar itu terdiri dari pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang sudah dimasukkan ke dalam amplop berwarna putih.

    Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id