KPK Tunggu Kehadiran Adik Nazaruddin

    Ilham Pratama Putra - 17 Juli 2019 13:27 WIB
    KPK Tunggu Kehadiran Adik Nazaruddin
    Lambang KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan adik mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin, Muhajidin Nur Hasim, memenuhi panggilan. Muhajidin diminta memberikan keterangan dalam perkara suap kerja sama di bidang pelayaran dan gratifikasi.

    "Sebelumnya yang bersangkutan telah menyampaikan kesediaan hadir hari ini setelah tidak dapat hadir pada dua panggilan sebelumnya, yaitu pada 5 Juli dan 15 Juli 2019," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019.

    Muhajidin akan diperiksa untuk tersangka anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso (BSP) dan Indung (IND) dari pihak swasta. Sebelumnya, KPK telah memeriksa anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Demokrat Muhammad Nasir, yang juga adik dari Nazaruddin.

    Kasus penerimaan gratifikasi itu merupakan hasil pengembangan perkara suap kerja sama bidang pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK). Belum diketahui detail kaitan Nazaruddin dengan adiknya Muhajidin dalam kasus ini. 

    Informasi teranyar, KPK menemukan bukti salah satu sumber gratifikasi terkait pengurusan dana alokasi khusus (DAK). Dugaan ini diperkuat dengan penggeledahan ruang kerja Muhammad Nasir di DPR pada Sabtu, 4 Mei 2019.

    Bowo bersama Indung dan Marketing Manager PT HTK Asty Winasti ditetapkan sebagai tersangka suap kerja sama jasa penyewaan kapal antara PT Pilog dan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima, sedangkan Asty pemberi suap.

    Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya jasa angkut tersebut, USD2 per metrik ton. Pemberian fee terjadi enam kali di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel, dan Kantor PT HTK senilai Rp221 juta dan USD85.130.

    Baca: Legislator Gerindra Diperiksa Terkait Suap Bowo Sidik

    Dari Bowo, penyidik menyita uang Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang Rp8 miliar itu terdiri dari pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang sudah dimasukkan ke dalam amplop berwarna putih.

    Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id