Direktur Operasional Perum Perindo Dipanggil KPK

    Juven Martua Sitompul - 12 Desember 2019 11:34 WIB
    Direktur Operasional Perum Perindo Dipanggil KPK
    Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto.
    Jakarta: Direktur Operasional Perum Perindo, Farida Mokodompit, dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Farida akan dimintai keterangan terkait kasus dugaan dugaan suap impor ikan 2019.

    “Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RSU (Direktur Utama Perum Perindo, Risyanto Suanda),” kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis, 12 Desember 2019.

    KPK juga mendalami kasus ini lewat tiga saksi lainnya, yakni Komisaris PT Inti Samudra Hasilindo, Richard Alexander Anthony, Direktur Transforme Venture Capital Cana Asia Limited, Desmond Previn, dan seorang ibu rumah tangga, Efrati Purwantika.

    “Mereka diperiksa untuk melengkapi tersangka yang sama,” tegas Febri.

    KPK menetapkan Risyanto dan Direktur Utama PT Navy Arsa Sejahtera (PT NAS), Mujib Mustofa, sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap impor ikan 2019. Risyanto selaku pucuk pimpinan Perum Perindo yang berwenang mengajukan kuota impor ikan diduga membantu PT NAS mendapat proyek impor ikan.

    Ihwal kongkalikong pengurusan proyek berawal saat seorang mantan pegawai Perum Perindo mengenalkan Mujib dengan Risyanto. Setelah perkenalan itu, Mujib dan Risyanto membicarakan kebutuhan impor.

    Pada Mei 2019, Mujib dan Risyanto kembali melakukan pertemuan. Dalam pertemuan itu, disepakati jika Mujib mendapat kuota impor ikan sebanyak 250 ton dari kuota impor Perum Perindo yang disetujui Kemeterian Perdagangan (Kemendag).

    Setelah 250 ton ikan diimpor PT NAS, ikan-ikan tersebut di karantina dan disimpan di cold storage milik Perum Perindo. Berdasarkan keterangan Mujib, hal ini untuk mengelabui otoritas yang berwenang agar seolah-olah yang mengimpor adalah Perum Perindo.

    Pada 16 September 2019, Mujib kembali bertemu dengan Risyanto di salah satu lounge hotel di Jakarta Selatan. Dalam pertemuan tersebut, Risyanto menanyakan kesanggupan Mujib menyiapkan kuota impor ikan tambahan sebesar 500 ton untuk Oktober 2019.

    Pada pertemuan itu juga, Risyanto menyampaikan permintaan uang sebesar USD30 ribu atau setara Rp400 juta lebih kepada Mujib untuk keperluan pribadi. Risyanto meminta Mujib menyerahkan uang melalui perantara, Adhi Susilo, yang menunggu di lounge hotel.

    Risyanto dan Mujib kembali melakukan pertemuan di salah satu cafe di Jakarta Selatan, pada 19 September 2019. Mujib menyampaikan daftar kebutuhan impor ikan kepada Risyanto dalam bentuk tabel berisi Informasi jenis ikan dan jumlah, termasuk komitmen fee yang akan diberikan kepada pihak Perum Perindo untuk setiap kilogram ikan impor.

    Mujib selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

    Risyanto selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.





    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id