Mutasi Kasat Reskrim Polres Jaksel Dinilai Janggal

    Medcom - 14 Januari 2020 14:07 WIB
    Mutasi Kasat Reskrim Polres Jaksel Dinilai Janggal
    Ilustrasi/Medcom.id
    Jakarta: Proses mutasi Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Jakarta Selatan, AKBP Andi Sinjaya Ghalib dinilai janggal. Kejanggalan terlihat dari alasan Polda Metro Jaya memutasi Andi.

    Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi NasDem, Ahmad Sahroni, mengatakan proses mutasi terlihat tak bermasalah jika berbasis pernyataan resmi Polda Metro Jaya. Namun, di sisi lain, Indonesia Police Watch (IPW) menyatakan mutasi itu berhubungan dengan dugaan pemerasan yang dilakukan Andi terhadap seorang pelapor bernama Budianto.

    “Saya minta Kapolda Metro Jaya bergerak cepat memerintahkan Propam (Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Metro Jaya) menyelidiki dan mengungkap kasus ini secara transparan,” kata Sahroni, melalui keterangan tertulis, Selasa, 14 Januari 2019.

    Sahroni menekankan, di tengah gencarnya Polri membangun profesionalisme guna membangun kepercayaan masyarakat, kasus dugaan pemerasan yang dilakukan Andi itu mencoreng wajah institusi. 

    Sebagai institusi penegak hukum yang mengedepankan asas praduga tak bersalah, Sahroni meminta Polda Metro Jaya secara terbuka memeriksa juga Ketua Presidium IPW Neta S Pane sebagai pihak yang membuka kasus tersebut ke publik. Polda Metro juga diminta mendalami kasus ini kepada Budianto dan Andi Sinjaya.

    "Kita menganut asas presumtion of innocent (praduga tak bersalah) dalam penegakan hukum. Agar semua terang dan tidak ada fitnah, maka Polda wajib memeriksa Neta, Budianto, dan Andi Sinjaya,” kata Sahroni.

    Pemeriksaan, kata dia, untuk memperjelas kesimpangsiuran informasi. "Institusi Polri tidak boleh dikacaukan oleh informasi yang masih dipertanyakan validitasnya. Kalau memang pemerasan itu benar, ya diungkap. Sebaliknya, jika tidak benar dan fitnah, segera ditindaklanjuti lewat mekanisme hukum yang berlaku,” kata dia.

    IPW menyatakan mutasi jabatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib dari kasat Reskrim Polres Jaksel didasari atas dugaan pemerasan yang dilakukan Andi terhadap pelapor bernama Budianto. Melalui keterangan tertulis, Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan Andi diduga meminta uang senilai Rp1 miliar.

    "Indonesia Police Watch (IPW) memberi apresiasi kepada Polri yang sudah mencopot penyidik Polres Jakarta Selatan yang meminta uang Rp1 miliar kepada pelapor Budianto," ujar Neta.

    Polda Metro Jaya membantah mutasi yang dilakukan terhadap Andi Sinjaya berkaitan dengan isu yang disebarkan IPW. 

    "Saya luruskan saja, dia itu bukan dicopot, tapi mutasi biasa," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, Senin, 13 Januari 2020.
     




    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id