Percakapan Staf Panin Bank: Gelagat Pegawai Ditjen Pajak Kayak Minta Jatah

    Fachri Audhia Hafiez - 24 November 2021 01:44 WIB
    Percakapan Staf Panin Bank: Gelagat Pegawai Ditjen Pajak Kayak Minta Jatah
    Sidang pemeriksaan saksi kasus mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak Kemenkeu Angin Prayitno Aji dan eks Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak, Dadan Ramdani. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez



    Jakarta: Jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap percakapan elektronik atau chat dua staf pajak pada PT Bank Pan Indonesia (Panin Bank) yakni, Edryoko Dwi Hardono dan Hendi Purnawan. Percakapan itu terkait pemeriksaan pajak PT Panin Bank yang menjadi perkara di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    "Berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP) Edryoko 'Ya gue enggak tahu juga sih soalnya gelagat pemeriksaan yang 2016-2017 kesannya memang kayak minta jatah, beda sama 2010 sama 2011. Masalahnya dari Rp900 miliar bisa ke Rp300 miliar'," kata salah satu JPU KPK saat persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa malam, 23 November 2021.

     



    Pada perkara ini, temuan awal pajak yang mesti dipenuhi PT Panin Bank senilai Rp926.263.445.392. Kasus ini mengemuka karena ada dugaan kongkalikong direksi PT Panin Bank dan penurunan kewajiban pajak perusahaan itu menjadi Rp300 miliar.

    Edryoko menjelaskan pemeriksaan yang dimaksud dalam percakapan itu yakni, tim pemeriksa pajak pada Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Tim terdiri dari Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar, dan Febrian.

    Jaksa mencecar maksud kata gelagat pada percakapan antara Edryoko dan Hendi. Menurut Edryoko, awalnya tim pemeriksa pajak pada Ditjen Pajak meminta akta kredit dan sudah diberikan oleh pihak PT Panin Bank. Tim disebut hanya sekadar melihat berkas itu.

    "Kedua, kita klarifikasi atas sanggahan temuan awal mereka (tim pemeriksa pajak) enggak respons. Ketiga, data hasil pemeriksaan rinciannya kita minta. Tapi mereka enggak memberikan," ucap Edryoko.

    Baca: Diperiksa Ulang, Pajak PT Panin Bank 2016 Mencapai Rp1,3 Triliun

    Edryoko mengeklaim kondisi itu berbeda pada pemeriksaan pajak sebelumnya. Menurut dia, tim pemeriksa pajak lebih komunikatif.

    "Lebih ke komunikasi. Jadi untuk pemeriksaan 2010-2016 mereka lebih komunikatif ke kitanya, menanggapi semua," ujar Edryoko.

    Selain itu, jaksa juga memperdalam percakapan 'Enggak tahu juga sih kalau ada manajemen yang main belakang kita enggak tahu'. Edryoko diminta menjelaskan maksud kata manajemen, apakah terkait dengan manajemen PT Panin Bank.

    "Jadi itu pendapat dan pemikiran saya pribadi," jawab Edryoko.

    Edryoko Dwi Hardono dan Hendi Purnawan diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak Kemenkeu Angin Prayitno Aji dan eks Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak, Dadan Ramdani.

    Angin dan Dadan didakwa menerima suap Rp15 miliar dan SGD4 juta (sekitar Rp42,1 miliar) terkait rekayasa penghitungan pajak. Perbuatan itu juga dilakukan bersama-sama tim pemeriksa pada Ditjen Pajak, yakni Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar, dan Febrian.

    Mereka merekayasa hasil penghitungan pajak PT GMP untuk tahun pajak 2016. Rekayasa pada wajib pajak PT Bank Pan Indonesia (Panin) Tbk terjadi di 2016 dan PT Jhonlin Baratama (JB) pada 2016 dan 2017.

    Angin dan Dadan didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id