2 Saksi Diperiksa Terkait Dugaan Kartel Kremasi

    Theofilus Ifan Sucipto - 22 Juli 2021 15:31 WIB
    2 Saksi Diperiksa Terkait Dugaan Kartel Kremasi
    Petugas mengangkat peti jenazah korban covid-19 untuk dimakamkan di TPU Srengseng Sawah, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2021. Foto: MI/Andri Widiyanto



    Jakarta: Polres Jakarta Barat telah memeriksa dua saksi terkait dugaan kartel kremasi. Penyelidikan terus berlangsung supaya duduk perkara terang benderang.

    “Kemungkinan bisa lebih (banyak saksi) kami periksa,” kata Kapolres Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo saat dihubungi, Kamis, 22 Juli 2021

     



    Menurut dia, kedua saksi itu ialah pemilik Yayasan Rumah Duka Abadi dan seorang warga, William. William salah satu sosok yang memviralkan kasus ini ke media.

    “Nanti akan ada beberapa saksi dipanggil. Saat ini masih dalam tahap pendalaman,” ujar dia.

    Meski begitu, Ady belum mengonfirmasi apakah kasus ini masuk ranah hukum atau tidak. Pihaknya enggan gegabah sebelum mengumpulkan data dan bukti yang lengkap.

    Baca: Gelar Perkara Dugaan Penimbunan Obat di Kalideres Menunggu Kemenkes

    “Kami akan (bekerja) maraton untuk pastikan kejadian sebenarnya,” papar dia.

    Ady mengatakan tidak membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk mengusut kasus ini. Pasalnya, perkara tersebut menjadi bagian tugas Unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Jakarta Barat.

    “Kami harap hal ini tidak terjadi karena pandemi cukup susah jadi jangan ambil keuntungan dalam kesulitan orang,” tegas Ady.

    Muncul pesan berantai di aplikasi WhatsApp yang mempermasalahkan biaya kremasi jenazah pasien covid-19. Dalam pesan itu, warga Jakarta Barat, Martin, mengaku diperas. 

    Peristiwa itu berawal saat ibunda Martin meninggal di salah satu rumah sakit di Jakarta pada Senin pagi, 12 Juli 2021. Dinas Pemakaman lalu membantu mencarikan krematorium. 

    Martin mengaku dihampiri orang yang mengaku dari Dinas Pemakaman. Mereka menyampaikan jenazah bisa segera dikremasi di Karawang dengan paket seharga Rp48,8 juta.
     
    "Kami terkejut karena enam minggu lalu kakak kami meninggal dan dikremasi, paket ini tidak sampai Rp10 juta. Lalu, dua minggu kemudian besan kakak kami meninggal bersama anak perempuannya akibat covid-19, paketnya Rp24 juta per orang. Bagaimana harga bisa meroket begini tinggi dalam waktu singkat?" kata Martin dalam pesan itu.
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id