Saksi Novel Bantah BAP Terkait Pengeroyokan

    Yurike Budiman - 12 Mei 2020 15:41 WIB
    Saksi Novel Bantah BAP Terkait Pengeroyokan
    Suasana pemeriksaan saksi dalam sidang kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. Medcom.id/Yurike Budiman
    Jakarta: Martini, 69, salah seorang saksi sidang kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, membantah berita acara pemeriksaan (BAP) yang menjelaskan peristiwa pengeroyokan saat pelaku menyerang Novel. Martini menegaskan tak pernah menyampaikan ihwal pengeroyokan tersebut kepada polisi.

    "Saya enggak ngomong begitu, enggak ada pengeroyokan," kata Martini saat sidang kasus penyiraman air keras kepada Novel di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa, 12 Mei 2020.

    Dalam BAP yang dibacakan majelis hakim, menyebut saksi Martini menjelaskan ada peristiwa pengeroyokan saat pelaku menyiram air keras ke wajah Novel di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, sekitar pukul 05.10 WB, Selasa 11 April 2017.

    Mendengar keterangan yang berbeda, majelis hakim bertanya apakah selama pemeriksaan saksi menjawab sendiri semua pertanyaan dari polisi atau ada yang mengajari.

    Martini menegaskan tak ada yang menuntunnya dalam menjawab semua pertanyaan polisi. Namun, dia mengaku tak melihat kembali isi BAP seusai pemeriksaan.

    "Iya jawab sendiri, enggak ada yang ajarin. Saya juga enggak baca lagi lah karena segitu banyak," kata Martini.

    Majelis Hakim pun meminta Martini untuk maju ke depan untuk memastikan tanda tangan dan paraf di BAP tersebut. "Parafnya dan tanda tangan apa betul saksi punya?" tanya hakim.

    Martini membenarkan. Namun, dia menegaskan tak pernah menyebut ada peristiwa pengeroyokan. "Betul. Tapi siapa yang bilang pengeroyokan di sini? Saya enggak ngomong begini-gini. Allah Maha Tahu," kata Martini.

    Baca: Jeritan Minta Tolong Hingga Kesaksian Rasa Panas dari Pakaian Novel

    Dalam kasus ini, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette didakwa melakukan penganiyaan berat kepada Novel secara bersama-sama dan direncanakan. Perbuatan itu berupa menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4) ke badan dan muka Novel.
     
    Perbuatan Rahmat dan Ronny membuat Novel mengalami luka berat. Novel mengalami penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.
     
    Ronny dan Rahmat didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) atau 353 ayat (2) atau 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id