Pemerintah Diminta Mendata Anak WNI Eks ISIS

    Antara - 14 Februari 2020 05:39 WIB
    Pemerintah Diminta Mendata Anak WNI Eks ISIS
    Ketua YLBHI Asfinawati. Foto: MI/Arya Manggala
    Jakarta: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) meminta pemerintah mendata anak-anak warga negara Indonesia (WNI) eks ISIS. Pendataan guna mengetahui keberadaan anak-anak yang akan dipulangkan.

    "Artinya mereka harus tahu jumlah persisnya. Berapa anak-anak, berapa perempuan, dan motivasi masing-masing," kata Ketua Umum YLBHI Asfinawati di Jakarta, melansir Antara, Jumat, 14 Februari 2020.

    Ia khawatir jika tidak didata dan disiapkan penanganan secara tepat, justru akan mencerabut anak-anak tersebut dari sosok orang tua mereka. Bahkan, kata dia, ada kekhawatiran pula dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kalau keberadaan anak-anak itu akan menjadi sel terorisme baru, sehingga perlu langkah deradikalisasi.

    "Ini sebetulnya yang perlu dipikirkan. Bagaimana tumbuh kembang mereka, siapa yang ngurus, dan lain-lain," katanya.

    Asfinawati meminta keberadaan anak-anak tersebut didata secara pasti berikut dengan rencana langkah penanganan. Misalnya, deradikalisasi, konseling, dan sebagainya.

    Pemerintah Diminta Mendata Anak WNI Eks ISIS
    Kamp Al-Hol di Suriah menjadi tempat tinggal keluarga dari anggota ISIS. Foto: AFP

    Pemerintah memastikan tidak akan memulangkan 689 WNI eks ISIS yang ada di Suriah. Pemerintah akan menindak tegas eks ISIS yang masuk ke Indonesia lewat jalur tikus.
     
    "Kalau lewat jalur tikus ya ditangkap. Yang masalah itu kalau mereka ada yang menyembunyikan paspor, pura-pura paspornya dibakar," kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.

    Mahfud menjelaskan pemerintah menolak pemulangan foreign terrorist fighter (FTF) untuk melindungi 267 juta warga Indonesia. "Jangan bilang orang terjebak, kalau terjebak bukan FTF. FTF itu foreign terrorist fighter, kombatan, teroris," tegas dia.
     
    Namun, pemerintah membuka kemungkinan memulangkan anak-anak berusia di bawah 10 tahun yang berada di kawasan Suriah dan Turki. Mereka akan dibekali kontra radikalisasi.





    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id